Blog Archives

Nikmatnya Surga, Dahsyatnya Neraka

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, sesungguhnya orang yang tidak mengenal kemuliaan akhirat dan malas beribadah akan menganggap dunia ini sebagai negeri yang senantiasa ia tempati. Ia selalu merasa kurang terhadap apa yang dimilikinya, tidak pernah merasa cukup mengejar dunia sampai segala keinginannya terpenuhi. Padahal, apa yang ia usahakan, berupa harta, anak, dan lain-lain, semua itu tidak akan pernah menimbulkan kepuasan pada dirinya, bahkan mampu membawa kesengsaraan baginya. Seharusnya dia menyadari bahwa sebentar lagi kematian akan menghampirinya. Adapun orang yang mendapat taufik, dia menyadari bahwa dunia dan segala keindahannya itu hanyalah tipuan belaka, sehingga dia tidak terperdaya bahkan sebaliknya akan bergegas menuju ampunan Allah serta surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Read the rest of this entry

Refleksi Niat

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Bukhori: 1)

Total Sanad kurang lebih 12 yang disebutkan didalam Kutubus As – Sab’ah (Bukhori, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah. Ahmad). Hadist Ahad/Gharib(Diriwayatkan hanya 1 jalur saja)

Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad. Read the rest of this entry

Mutiara Hadits “Meraih Ampunan Allah”

Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 42 Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh

Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

Dan dari Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu ‚alaihi wa sallam bersabda: “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Read the rest of this entry

Mutiara Hadits “Fiqih Nasihat”

Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari, bahwa Nabi telah bersabda, “Agama (Islam) itu adalah nasehat.” (beliau mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.”

Takhrij Hadits Ringkas
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (hadits no. 55) di dalam Shahih-nya di dalam Kitab al-Iman: Bab Bayan Anna ad-Din an-Nashihah (II/32-Syarah an Nawawi), dari tiga jalur yang semuanya bertemu pada Suhail bin Abu Shalih dari ‘Atha’ bin Yazid al-Laitsi dari Tamim ad-Dari. Riwayat inilah yang paling masyhur dalam periwayatan hadits ini.

Sedangkan Imam Bukhari hanya Read the rest of this entry

What’s Wrong With “Hari Valentine”?!

Tepatnya pada tanggal 14 Februari 2011, kita akan selalu menyaksikan media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibukria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari.

Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day. Biasanya mereka saling mengucapkan “Selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena ang-gapan saat itu adalah “Hari Kasih Sayang”. Benarkah demikian..?

Simak penjelasannya dalam ebook Valentine’s Day yang dicetak dan dibagikan secara gratis oleh Yayasan Al-Sofwa Jakarta. Semoga bermanfaat.

Download Ebook Valentine’s Day >> klik di sini

Sejarah Valentine’s Day

The World Book Encyclopedia, vol. 20 (1993) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day: “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief Read the rest of this entry

Keseimbangan antara Lisan, Nafs dan Perbuatan

Dakwah adalah jalan yang ditempuh Rasululloh hingga akhir hayatnya. Tak tampak pada beliau satu kekurangan pun. Beliaulah manusia paling sempurna. Ajarannya yang indah senatiasa merasuk dalam kalbu insan yang mempelajari KitabNya [AlQur’an] dan Sunnah beliau. Tidak pernah tampak pada beliau suatu keganjilan atau katimpangan dalam setiap langkah yang beliau jejaki. Dalam Lisan, Hati juga Perbuatan yang menjadi suritauladan bagi kita semua.

Lalu bagaimana dengan jihad dan dakwah kita?

Sudahkah kita meniru beliau dalam segala hal? Rasululloh bersabda: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam suri tauladan yang baik untukmu [H.R. Bukhori]”. Tidak sepantasnya kita mencari seseorang untuk dijadikan tauladan dalam bertutur, bersikap serta dalam hal menata hati. Apa lagi bagi umat muslim yang diwajibkan atasnya saling mengingatkan [dalam hal ini berhubungan dengan lisan, nafsiyah maupun perbuatan]. Kewajiban dan urgensi itu telah dijelaskan dalam AlQur’an yaitu: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[Ali ‘Imran 3: 104]”. Amsudnya segolongan umat adalah umat nabi Muhammad, yaitu kaum muslimin.

Sudahkah kita benar?

Sungguh kebenaran itu hanya milik Allah semata. Janganlah pernah kita sedikit pun sombong akan apa yang kita miliki atau pengetahuan – yang sedikit – yang kita rengkuh dalam perjalanan mencari kebenaran ini. Allah berfirman: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [AlBaqarah 2:151]”. Kita sebearnya adalah insane yang tidak tahu menahu tentang apapun sebelum Allah mengutus Rasul sebagai penerang dalam kegelapan ilmu dan pengetahuan mengenai keberadaanNya juga ke-EsaanNya sera dalam hal bagaimana manusia melakukan itu dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Rasululloh diutus emang untuk itu, menjadi peringatan bagi untuk kita semua dan menunjukan bahwa ilmu yang sebenarnya bukanlah milik Rasulullah, melainkan milik Allah semata. Oleh karena itu, Allah Swt. menjelaskan KekuasaanNya terhadap sesuatu serta eksistensiNya mengenai jagat raya beserta isi dan ilmuNya dalam Ayat AlQur’an: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.[AlBaqarah 2:255]”.

Apa yang harus kita lakukan?

Yang pertama adalah kembalikan segalanya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena kita tidak ada daya upaya dalam memikirkan dan memutuskan seuatu. Selanjutnya, jadikanlah apa yang kita lisankan sesuai dengan hati serta perbuatan yang kita lakukan. Seperti sabda Rasululullah: Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan. (HR. Tirmidzi).

Peringatan dalam lisan Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.[AlIsraa’ 17:53]”, “…ucapkanlah perkataan yang baik,[Al Ahzab 33:32]. Begitulah Allah menjelaskan kita dalam beretika lisan. Rasulullah pun mengingatkan kita dalam etika berbicara, Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam…[Shahih Muslim No.69]”. maka dari itu, penting bagi kita berhati-hati dalam berucap dan bertutur kata. Lebih baik kita berkata yang thoyib dari pada kita berbicara yang tidak perlu, lebih baik diam.

Dalam hal hati pun Allah berfirman: “…Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d 13:28]. Juga Rasulullah dalam haditsnya: Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik seluruh tubuh akan baik jika ia rusak seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah dialah hati.” Muttafaq Alaihi.. oleh karenanya, marilah kita tata hati ini sebaik mungkin. Hilangkan semua penyakit-penyakit hati yang membuatnya sakit dan hancur lalu mati. Jadikan hati ini cerminan amal kita sehari-hari dengan mengacu pada Rasulullah sebagai suri tauladan. Jangan biarkan nafsu syaithan mengalahkan semuanya. Jangan sampai hati ini menjadi mayyit. Senantiasalah mengingat Allah dan menyucikan hati dengan nmengabdi hanya semata-mata pada Allah. Dan mengakui kelemahan diri serta mengakui keberadaanNya secara Rububiyah maupun Uluhiyah serta Tauhid Asma wa SifatNya. Niscaya hati akan seimbang dengan lisan kita.

Adapun perbuatan, adalah amal yang dilakukan oleh manusia. Tidak lepas dari peran syariat Allah dalam mengaturnya. Tubuh ini hanyalah bagian dari kita yang terlihat dan bagian dari ciptaaNya juga. Lalu apa arti dari kesombongan yang membuat kita yakin akan aturan lai selain syariatnya yang mengatur tubuh ini dalam keseharian kita. Allah berfirman: “…putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…[Al Maa’idah 5:48]”. Maka dari itu, lisan, hati serta perbuatan kita haruslah seimbangan dalam hubungannya satu dengan yang lainnya. Sehingga ada suatu keterikatan akhlaq al kariimah. Dengan demikian, kita tidak akan dicap sebagai manusia NATO [No Action Talk Only], juga kita akan senantiasa mendapatkan ketenangan apa pun yang orang katakan tentang kita. Karena itulah kebenaran yang datangnya dari Allah Swt dan RasulNya.