Blog Archives

HTI dan DPD RI: Tolak Kenaikan Harga atau Pembatasan Subsidi BBM

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dan Hizbut Tahrir Indonesia sepakat bahwa sebenarnya subsidi bahan bakar minyak (BBM) tidak perlu dibatasi apalagi dicabut apabila pemimpin dan pengelola negara amanah dan sistem yang diterapkannya pun diganti dengan syariah.

“Kami menolak BBM dinaikan!” ujar Ketua DPD RI Irman Gusman saat menerima delegasi HTI, Rabu (6/4) sore di Kantor DPD RI, Senayan, Jakarta. Irman dan anggota DPD dari Sulawesi Selatan Abdul Aziz Kahar Muzakar menyambut hangat kedatangan delegasi yang terdiri dari Ketua Lajnah Faaliyah DPP HTI Rahmat Kurnia, Ketua DPP Rokhmat S Labib dan Anwar Iman, serta anggota Lajnah Faaliyah Budi Dharmawan dan Wahyudi Al Maroky.

“Benarkah dengan kuota subsidi masalah selesai?” ujar Irman retorik. Karena menurutnya, pemerintah seharusnya sebelum bicara kenaikan atau pembatasan subsidi terlebih dahulu melakukan efesiensi.

Read the rest of this entry

Negara Wajib Menjaga Aqidah Umat

Bentrok Kelompok Ahmadiyah dengan warga di Cikeusik, disusul rusuh Temanggung pasca vonis penghujat Islam, kembali memunculkan perdebatan tentang hubungan antara agama dan negara. Kelompok Liberal dengan gencar mengkampanyekan bahwa negara tidak boleh menghakimi keyakinan warga, negara harus melindungi semua keyakinan atas dasar kebebasan berkeyakinan. Menurut kelompok Liberal maraknya berbagai kerusuhan atas nama agama terjadi karena negara mencampuri urusan keyakinan, antara lain dengan menerbitkan SKB Tiga Menteri berkaitan dengan Ahmadiyah dan pendirian gereja. SKB ini disebut-sebut menjadi sumber legitimasi bagi aksi kekerasan. Mereka juga menuding negara tidak hadir untuk melindungi kebebasan beragama. Tentu harus dibedakan dengan tegas kebolehan beribadah dengan penghinaan atau penyesatan agama. Dalam Islam, kebolehan beribadah bagi non-Muslim (kafir) tidak dipersoalkan. Berdasarkan syariah Islam, mereka diberi hak untuk beribadah menurut keyakinan agama mereka. Read the rest of this entry

Strategi militer AS 2011, waspadai Asia-Pasifik!!

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Militer AS pada Rabu (9/2/2011) untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun mengumumkan pernyataan mengenai strategi militer terbaru mereka untuk bergerak melampaui fokus pada perang di Afghanistan demi mengatasi kebangkitan Cina dan tantangan strategis lainnya.

Strategi militer nasional 2011 yang diumumkan oleh Kepala Staf Gabungan ini menegaskan kembali komitmen AS untuk memerangi ‘ekstremisme’ bersama sekutunya di Afghanistan dan Pakistan. Tetapi, tidak cukup itu, menurut pernyataan tersebut, militer harus memperluas daya jangkau untuk mengatasi ancaman yang berkembang di tempat lain.

“Meskipun kami terus menyempurnakan bagaimana cara mencegah ekstrimisme dan agresi, strategi ini juga benar menekankan bahwa kekuatan militer kami akan lebih efektif bila digunakan bersama unsur-unsur kekuasaan lain,” Laksamana Mike Mullen, ketua Kepala Staf Gabungan, menulis dalam blognya, “Chairman’s Corner”.

Strategi ini merupakan pernyataan luas tentang bagaimana militer akan menggunakan kekuatan dan memprioritaskan bantuan dan pelatihan untuk membantu mencapai tujuan keamanan AS.

Para pejabat militer mengatakan pedekatan “seluruh komponen negara” yang melibatkan tidak hanya aparat keamanan tetapi diplomasi dan organisasi non pemerintah akan diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan keamanan di masa depan.

“Pendekatan ini bagi kebijakan luar negeri, dengan kepemimpinan sipil, akan menjadi penting saat kami menghadapi tantangan keamanan yang kompleks di depan kami,” kata Mullen.

Sementara itu, strategi militer nasional terakhir yang produksi pada tahun 2004, menyerukan militer untuk melindungi Amerika Serikat, mencegah serangan tiba-tiba, dan mencapai kemenangan melawan musuh, dokumen saat ini (2011) melampaui jangkauan tersebut.

Selain melawan ekstremisme dan menghalangi agresi, strategi 2011 ini pun berupaya untuk memperkuat keamanan global melalui kemitraan regional dan internasional serta bertujuan untuk membentuk kembali kekuatan militer demi menghadapi tantangan masa depan.

“Fokus kami lebih ke arah masa depan dan memperkuat stabilitas global dan regional serta membentuk kekuatan masa depan,” seorang perwira militer senior mengatakan tanpa menyebut nama.

Amerika Serikat menghadapi berbagai tantangan di kawasan Asia-Pasifik, dari kebangkitan India dan Cina, dengan program nuklir Korea Utara, pergeseran ekonomi global, dan persaingan sengit untuk sumber daya alam, katanya.

Strategi ini dilansir sebagai seruan untuk meningkatkan keamanan global dengan menempa hubungan militer-ke-militer lebih dalam dan kerja sama dengan Cina dan Asia-Pasifik.

Petugas senior mengatakan militer Amerika bukan hanya harus mencapai misi ini di Irak dan Afghanistan, tetapi juga harus melampaui konflik-konflik dan mulai menyadari bahwa lingkungan strategis yang lain pun harus ditangani. (althaf/arrahmah.com)

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini…

Sebuah Renungan Seorang Aktivis Dakwah

Sejak keruntuhan Daulah Ustmani di Istambul, yang merupakan institusi simbol kebesaran dan pemersatu umat runtuh pada tahun 1924 oleh tipu daya dan muslihat Musthafa Kemal, sang agen Inggris yang disusupkan dalam lingkaran pemerintahan Khalifah Ustmani, perjuangan mengembalikan kejayaan Islam tak hanti-hantinya dikobarkan oleh generasi-generasi terbaik umat.
Namun,kerasnya usaha tak kunjung menuai keberhasilan. Bahkan, kegagalan demi kegagalan menghampiri hampir sebagian besar jamaah yang didirikan dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam. Ada yang didirikan atas semangat Read the rest of this entry

TOLAK OBAMA!!!

Obama memastikan berkunjung ke Indonesia. Selain kunjungan kenegaraan, kedatangan Obama juga berbau sentimental. Rencananya Obama akan mengajak istri dan anaknya untuk melihat tempat nostalgia Obama ketika kecil.
Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, dalam kunjungan ini Presiden SBY dan Obama akan meluncurkan kemitraan komprehensif strategic partnership yang dinamakan OPIC alias Overseas Private Investment Corporation atau perjanjian di bidang investasi. Kedua negara juga akan mempererat hubungan di segala bidang. Isu terorisme tentu juga menjadi agenda penting dalam pertemuan ini.
Pro-kontra menjelang kedatangan Obama pun bergulir. Pihak yang pro mengatakan kunjungan Obama ini akan meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional karena Indonesia dianggap partner AS. Kunjungan Obama juga akan mengokohkan citra leadership Indonesia di Asia Tenggara. Apalagi Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk ke dalam G-20. Ada juga yang menggunakan argumentasi agama, dengan mengatakan, kita sebagai bangsa religious, bukankah diperintahkan untuk menyambut tamu dengan baik?
Dalam hubungan antarnegara, yang tidak boleh kita lupakan, setiap kebijakan politik luar negeri suatu negara pasti ditujukan untuk kepentingan negara itu. Apalagi Amerika yang berbasis ideologi Kapitalisme. Politik luar negeri negara kapitalis seperti AS bertujuan untuk menyebarluaskan dan mengokohkan ideologi Kapitalisme di seluruh dunia. Metode baku yang mereka gunakan adalah penjajahan (imperialisme) dalam berbagai bentuknya—ekonomi, politik ataupun budaya. Dengan cara itulah negara kapitalis bisa eksis.
Dulu Bush dalam pidatonya dengan tegas pernah mengatakan, penting untuk menyebarluaskan demokrasi dan liberalisme untuk mempertahankan kepentingan AS. Hal senada dikatakan Obama pada Mei 2009, yang dalam pidatonya pernah bersumpah untuk melindungi rakyat Amerika dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Amerika (http://www.globalsecurity.org).
Tentu terlampau naif kalau kita hanya melihat kunjungan Obama sebagai kunjungan nostalgia. Tujuan kedatangan Obama tidak lain untuk mengokohkan keberadaan Indonesia sebagai negara sekular yang mengadopsi nilai-nilai Kapitalisme AS sekaligus merupakan dukungan terhadap pemimpin politik negeri ini. Menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis seharusnya dibaca sebagai upaya AS merangkul Indonesia sebagai ‘sahabat’ AS dalam mengokohkan penjajahan Kapitalismenya. Sebab, siapa yang sebut teman oleh AS adalah negara-negara yang sejalan dengan nilai dan kepentingan AS. Sebaliknya, AS akan melabeli musuh dengan julukan teroris, fundamentalis atau militan kalau negara itu tidak sejalan dengan kepentingan Amerika.
Secara politik, keberadaan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia tentu sangat penting bagi Amerika. Indonesia diformat sebagai model negara Muslim yang dengan sukarela mengadopsi nilai-nilai Kapitalisme. Negara Paman Sam ini berharap, negara Muslim lain melakukan hal yang sama. Amerika ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Kapitalisme tidaklah bertentangan dengan kepercayaan umat Islam. Tidak aneh kalau Indonesia selalu dipuji-puji sebagai negara moderat yang berhasil memadukan nilai-nilai liberalisme dengan keislaman.
Dalam posisi seperti ini Indonesia tidak lain telah menjadi pion kebijakan belah bambu (carrot and stick policy). Amerika memberikan penghargaan terhadap negeri Muslim yang mendukung AS—seperti Indonesia—dengan memujinya, mengangkat posisinya dan membangun citra positif terhadap negara itu. Sebaliknya, AS memberikan hukuman dengan menjatuhkan bom, menyiksa dan membunuh warga sipil negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan AS, seperti yang dilakukan AS di Irak, Afganistan, Pakistan dan Sudan. AS memanfaatkan Indonesia untuk menutupi ‘wajah kejamnya’ yang melakukan penjajahan di negeri-negeri Islam. AS pun menggunakan hubungannya dengan Indonesia untuk membangun citra baik AS di Dunia Islam.
Dimunculkan kesan suara Indonesia adalah suara dari negara independen dan negeri Muslim, tetapi sesungguhnya mendukung AS. Dalam isu Palestina Indonesia menyuarakan dua negara (sama dengan yang disuarakan AS). Indonesia pun mendukung konferensi di London yang membicarakan masa depan Afganistan. Padahal konferensi itu adalah pertemuan Barat untuk mengokohkan penjajahannya di negeri Muslim itu.
Wajar kalau kita mempertanyakan sikap anti penjajahan Indonesia dalam politik luar negerinya. Bagaimana mungkin Indonesia menyambut dengan baik kepala negara imperialis yang hingga kini masih menjajah berbagai kawasan dunia, termasuk Dunia Islam. Sampai kini, di bawah pemerintahan Obama, ribuan tentara AS masih bercokol di Irak yang secara sistematis membunuh banyak rakyat sipil. Obama malah mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan dan Pakistan, yang berarti akan memperbanyak terbunuhnya kaum Muslim di sana.
Sikap Obama terhadap Israel juga tidak jauh berbeda dengan Bush. Hingga saat ini Obama tetap mendukung institusi teroris zionis Israel yang secara sistematis melakukan pembantaian massal terhadap umat Islam di sana. Obama malah membela tindakan Israel sang penjajah sebagai tindakan membela diri.
Secara ekonomi AS juga melakukan penjajahan dengan mengeksploitasi kekayaan alam Dunia Ketiga termasuk negeri Islam. Di Indonesia, atas nama investasi asing dan perdagangan bebas, perusahaan asing termasuk AS mengeksploitasi barang tambang negeri kita di Papua, Aceh, Riau, Cepu, Blok Natuna dan berbagai kawasan lainnya. Bukankah ini penjajahan ekonomi?
Karena itu, kita mempertanyakan pihak yang berupaya membela kedatangan Obama dengan menganggap dia tamu. Benar, kita harus memuliakan tamu, kalau tamu itu adalah tamu yang baik. Namun, kalau yang datang kepada kita adalah pembantai umat Islam dan pengekploitasi kekayaan alam Dunia Islam termasuk Indonesia, akankah kita menyambutnya dengan baik. Relakah kita bersalaman dengan tangan pembunuh yang masih berlumurun darah kaum Muslim? [Farid Wadjdi] www.hizbut-tahrir.or.id