KONDOMISASI MENKES VERSUS SOLUSI ISLAM

Menkes RI baru, Nafsiah Mboi, langsung membuat gebrakan yang menggemparkan. Mantan Ketua Komite Penanggulangan AIDS Nasional tersebut menggalakkan program penggunaan kondom besar-besaran untuk aktifitas seks beresiko. Apa sebenarnya tujuan Ibu Menkes dengan program barunya tersebut?

Ia menyatakan bahwa program kondomisasi tersebut dalam rangka mencegah atau mengurangi resiko  penyebaran HIV/AIDS yang makin parah dan tak terkendali. Dalam sebuha tulisan di Harian Republika disebutkan bahwa penyumbang penyebaran virus HIV/AIDS terbesar adalah dari perilaku seks bebas, yaitu mencapai 77 persen. Selebihnya dari faktor jarum suntik dan keturunan. Sementara pori-pori kondom dalam keadaan tak digunakan hanya mencapai 1/60 mikron dan bisa mengembang 10 kali lipat saat digunakan. Sedangkan ukuran virus HIV sekitar 1/250 mikron. Jadi efektifitas penggunaan kondom dalam mencegah penyebaran virus HIV sangat kecil. Ketidakefektifan ini telah disampaikan berkali-kali oleh beberapa pakar yang telah memulai penelitian tentang khasiat kondon sejak tahun 1990. Belum lagi jika terjadi kebocoran kondom karena kerusakan dan sebagainya.

Jadi, apa yang hendak dituju dari penggalakan program kondomisasi yang dananya mencapai puluhan Milyar tersebut jika ternyata kondom secara ilmiah tak berdaya mencegah laju penyebaran virus HIV melalui jalur hubungan seks?

Di Amerika Serikat, setelah pemerintah menyosialisasikan penggunaan kondom untuk “savety sex” justru semakin banyak remaja dan kaum muda usia 18-35 tahun yang melakukan seks bebas, karena merasa aman. Itu artinya yang beresiko terkena virus HIV AIDS semakin banyak, karena kondom tak efektif mencegah penularan virus.

Atau barangkali kampanye Menkes ini agar semakin banyak orang tertarik atau tertuntut untuk menggunakan kondom sehingga penjualan kondom meningkat. Kondom yang beredar di Indonesia ini sebagian besar adalah produk asing seperti merk sutra, fiesta, dan durex dimana kebanyakan konsumen rata-rata berusia 18-35 tahun. Baru-baru ini penjualan kondom di Indonesia saja mencapai 190 juta buah kondom untuk semua merk yang artinya jika 1 buah kondom berharga Rp 10.000 maka omset perdagangan kondom di Indonesia mencapai 1,3-1,9 trilyun. Luar biasa. Melebihi pendapatan negara dari sektor pertambangan.

Demikian besarnya potensi pasar kondom di negeri mayoritas muslim ini tentu menggirukan pelaku bisnis kondom. Segala cara akan ditempuha agar semakin banyak kondom. Pelaku bisnis tak peduli apakah konsumen adalah pasangan suami-istri ataukah bukan. Bahkan bayak ditemukan kasus, seperti yang pernah juga dituturkan oleh Ibu Elly Risman Musa, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati yang pernah membeli coklat di hari Valentine yang ternyata juga berisi paket sebuah kondom. Nauzdubillah….

Kepentingan bisnis lebih mengemuka dalam kampanye kondomisasi ini, yang sebenarnya justru akan semakin meningkatkan jumlah pelaku seks bebas baik dari segi banyak pelaku maupun intensitas aktifitas seks bebas atau perzinahan.

Jelas sekali bahwa perzinahan lah pangkal penyebaran virus HIV dengan 77 persen penyumbang penderita. Seharusnya perzinahanlah yang harus diberantas. Alih-alih melarang perzinahan, pemerintah, dalam hal ini Menkes malah berkampanye menggalakkan penggunaan kondom. Apakah negara ingin rakyatnya semakin banyak yang melakukan perzinahan? Lalu bagaimana mungkin negeri ini akan menuai keberkahan kalau semakin banyak pelaku maksiat. Kenapa pemimpin negara tak memimpin pemberantasan zina atau seks bebas dan malah menyetujui kampanye kondom yang dilakukan menteri kesehatannya? Apa yang diinginkan para pemimpin negeri ini. Apa yang ada dalam benak mereka. Kalau nasehat para ulama dan protes masyarakat sudah tak lagi didengar, sebenarnya kepada siapa mereka taat? Kepada Allah atau kepada para pelaku bisnis kah?

Kalau masyarakat hanya bisa menyeru, maka serukanlah nasehat kepada penguasa agar menggalakkan program pemberantasan seks bebas.

Islam telah memberikan solusi ampuh dalam memberantas seks bebas yang artinya juga akan mencegah secara efektif virus HIV/AIDS. Langkah kuratif pemerintah yang menerapkan hukum Islam ialah dengan pemberlakuan hukum rajam hingga mati bagi pelaku zina yang telah menikah dan jilid 100 bagi pasangan lajang. Dan juga ada langkah preventif (menutup pintu perzinahan), yaitu pencegahan tindakan perzinahan seperti memerintah laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat mereka dan menundukkan pandangan, laangan untuk bercampur baur antara laki-laki dan prempuan, kemudahan lapangan kerja bagi kepala keluarga dan kemudahan untuk menikah (tanpa biaya dan proses administrasi  yang berbelit), melarang segala jenis aktifitas produksi, konsumsi, dan distribusi hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi, dan tentunya melarang aktifitas klub-klub malam, tempat-tempat prostitusi.

Dengan solusi preventif dan kuratif yang diberikan oleh Islam ini perzinahan akan hilang, kalaupun ada angka akan sangat kecil dan sangat jarang atau sulit terjadi. Praktek aborsi dan penyebaran virus HIV/AIDS bisa teratasi. Insyaallah…

Wallahu a’lam

Agus Niamilah

Pandeglang, 11 Juli 2012

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 12 July 2012, in Dakwah, Dirasatul Islamiyyah, Opini, Suara Kami and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s