Melafadzkan Niat dalam Shalat

Oleh: Afa Silmi Hakim 

Definisi Niat

Defenisi Niat secara Lughat menurut Syaikh Ahmad al-Husiani sebagaimana di kutip oleh DR. Umar Sulaiman al-Asyqar adalah Al-Qashdu (kehendak, maskud, atau Tujuan)atau ulama lain mengatakan: Muthlaqul Qashdi (Semata-mata hanya tujuan). (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 15; KH. M. Sjafi’I Hadzami, Taudlihul Adillah, IV/132)

Sedangkan Niat dalam makna Syar’I adalah keinginan untuk mengerjakan sesuatu yang di ikuti dengan perbuatan.(DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 15; KH. M. Sjafi’I Hadzami, Taudlihul Adillah, IV/132)

Definisi diatas sebenarnya adalah salah satu bentuk dari al-Qashdu (makna bahasa dari niat), dengan demikian yang benar Insyallah adalah  Syari’at menggunakan kata niat dengan makna lughawinya (artinya syari’at tidak mengalihkan makna niat dari makna bahasanya)  (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 15-16)

Tempat niat

Para Imam Madzhab yang empat dan seluruh ulama umat ini telah sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati dan tidak ada perselisihan didalamnya. (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 87; Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/69, KH. M. Sjafi’I Hadzami, Taudlihul Adillah, IV/132)

Hukum Melafazhkan Niat

Semua kalangan ulama sependapat bahwa ibadah seseorang tidak sah hanya dengan melafazhkan niat yang  tidak ada di dalam hati. Ini  Karena hakikat niat adalah hati maka seseorang dikatakan berniat atau tidak tergantung dari hatinya.

Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri mengatakan: Perlu di ingat, pengungkapan dengan lidah (melafazhkan niat) bukanlah niat. Pengungkapan itu hanya berfungsi sebagai sarana dalam mengingatkan hati. Jadi kesalahan lidah (lafazh) tidaklah membatalkan shalat selama niat yang ada didalam hati itu benar. (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/69)

Seorang yang melafazhkan niat dengan lisan dan bersamaan dengan itu, di dalam hatinya ada niat untuk melaksanakannya. Yang seperti ini Ulama sepakat bahwa niat yang begini adalah sah, meskipun masih ada perebedaan pendapat mengenai hokum melafazhkannya, sunnah atau makruh. (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 89)

Dari keterangan DR. Umar diatas dapat diketahui bahwa hukum melafazhkan niat yang masyhur ada 2 yaitu Sunnah dan Makruh meski sebenarnya ada satu ulama yang mengatakan bahwa melafalkan niat  itu  wajib seperti Abu Abdullah az-Zubairi as-Syafi’I yang kemudian hal ini disanggah oleh Imam Nawawi dan dikatakan bahwa Ulama mazhab Syafi’I mengatakan bahwa pendapat Zubair ini adalah salah.

Ulama yang berpendapat sunnah, alasannya untuk mengumpulkan azimah, atau agar lisan membantu hati dalam berniat, atau  demi Ta’kid saja, (penguat dari apa yang diniatkan). (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 95; Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/69; KH. M. Sjafi’I Hadzami, Taudlihul Adillah, IV/132; Al-Habib Mundzir Al-Musawwa, Kenali Aqidahmu 2, hal 99)

Malikiyyah (Ulama Mazhab Maliki) dan Hanfiyyah (Ulama Mazhab Hanafi) berpandapat bahwa melafalkan niat itu tidak disyari’atkan dalam shalat, kecuali bagi orang was-was. Menurut Malikiyyah bagi yang tidak was-was, melafalkan niat itu menyalahi ketentuan yang utama, sedangkan bagi yang was-was hal itu disunnahkan. (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/69)

Sedangkan ulama yang mengatakan bahwa hukumnya makruh memiliki beberapa dalil dan pendapat yang sekaligus membantah ulama yang mengatakan sunnah dalam melafazhkan niat, dalil itu dapat dirinci sebagai berikut:

1. Yang mengatakan sunnah mesti didukung oleh dalil, padahal dalilnya tidak ada. Mereka berkata,hukum sunnah adalah hukum yang tidak mungkin ditetapkan lewat penelitian dan KEHENDAK (AKAL)SAJA , dan sesuatu itu tidak dapat menjadi sunnah kecuali jika Allah dan Rasul menyebutkan hukumnya Sunnah. Dan kita tidak menemukan dalil sebagai bukti bahwa melafazhkan niat itu hukumnya sunnah.

2.  Tidak ditemukan satu hadits pun bahwa Rasulullah dan para sahabat melakukan perbuatan ini, dan hal ini bisa jatuh kepada perbuatan bid’ah.

3. Apabila ucapan lisan berbeda dengan kata hati, maka yang diterima adalah kata Hati, sebagaimana perkataan Imam Syafi’I didalam kitab Al-Umm di bab Haji: apabila ada orang yang di lisannya dia berniat umroh tapi didalam hatinya ia berniat haji, atau sebaliknya, yang sah adalah niat di dalam hati, bukan ucapan lisan. Lantas apakah faedahnya melafazhkan niat apabila secara Ijma’ memutuskan bahwa ucapan lisan itu tidak diperhitungkan apabila berbeda dengan niat di dalam hati? (DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 96-100)

Kesimpulan, bahwa hukum melafazhkan niat yang rojih menurut kami adalah makruh, sedangkan orang yang berpendapat bahwa niat itu dilafazhkan dia masih dalam tataran Ra’yu Islami (Pemikiran Islam) yang dapat ditolerir. Alasannya bahwa mereka menganggap melafazhkan niat itu termasuk dari Istihsan dan istihsan sendiri masuk dalam tataran Dalil yang masih diperdebatkan. Sehingga kita tidak bisa memaksa orang yang berpegang teguh dengan hal ini.

Wallahu’alam…

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 22 June 2012, in Ammar Ma'ruf, Dakwah, Dirasatul Islamiyyah, Tazkiyatun Nufs and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Ditinjau dari judul saja, orang yang membuat artikel bodoh tentang posisi hal tersebut

    “Melafadzkan Niat dalam Shalat”

    Dimana-mana melafadzkan niat itu diluar shalat. Shalat itu dimulai dengan takbir. Hendaknya belajar dari pemula dulu. Masuk madrasah Ibtidaiyah dulu, Tsanawiyah, ‘Aliyah, sambil masuk pesantren, terus ke Timur Tengah, baru banyak bicara agama.

    Kapan shalat dimulai saja belum tahu, mau membahas agama ?. Hasilnya akan sesat dan menyesatkan yang lainnya.

  2. Baca dulu, baru komen mas.. apa kaya gini akhlak salaf? hmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s