Pernikahan Dini, Perspektif Pekerja Sosial Muslim

Praktek pekerjaan sosial dengan anak sangatlah menarik bagi saya. Ketertarikan saya terhadap dunia anak dan juga dorongan hati yang kuat untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung adalah alasan kuat mengapa saya mengambil kajian khusus ini dalam list Kartu Rencana Studi saya di semester 6 ini. Dengan dosen yang super awesome ditambah dengan metode pengajaran yang matang juga menantang membuat saya merasa yakin untuk mengatakan bahwa pilihan saya mengambil kajian ini sangat tepat. Semua itu juga menjadi alasan saya mengapa tetap bertahan berada dikelas yang over quota ini. xD

Sebagai calon pekerja sosial, saya sangat respektif terhadap moto utama dari profesi ini. Yakni, Keberfungsian Sosial. Artinya, pekerja sosial bertugas me-manusia-kan manusia. Tugas yang sungguh berat namun mulia.  Sebagaimana tugas yang diberikan Allah kepada manusia, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran 3:104). Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok dari umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar.” Imam Ali ash-Shabuni juga menyatakan, “Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah; untuk mengajak pada setiap kebajikan dan mencegah setiap kemungkaran.”. inilah alasan saya mengapa berani menyebut diri saya “Pekerja Sosial Muslim”. Karena peran pekerja sosial dalam memberfungsikan kembali manusia agar menjadi manusia, dengan dibubuhkan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, maka Pekerja Sosial Muslim adalah ungkapan yang tepat bagi kita kaum muslim yang sedang menempuh kuliah pekerjaan sosial. Semoga tidak ada kesan memaksakan. Hehehe xD

Pernikahan dini?

Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang sering terjadi khususnya di Indonesia. Fenomena pernikahan anak di bawah umur bila diibaratkan seperti fenomena gunung es, sedikit di permukaan atau terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat luas. Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Namun, dalih seperti ini biasa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan anak di bawah umur yang dilakukan Nabi SAW dengan Aisyah r.a. Selain itu, peraturan perundang – undangan yang belaku di Indonesia dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur. Jadi tidak ada alasan lagi pihak – pihak tertentu untuk melegalkan tindakan mereka yang berkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur.( http://alfiyah23.student.umm.ac.id/)

Tulisan-tulisan seperti ini mudah sekali ditemui ketika membubuhkan keyword “Pernikahan dini” di google search engine. Sungguh ironis dan mirisnya saya memandang hal ini dengan pandangan saya sebagai “Pekerja Sosial Muslim”, mungkin karena saya selalu memandang segala hal dari berbagai sudut pandang dan ditimbang dengan syariat Islam.

Yang lebih menarik lagi, hal ini (pernikahan dini) banyak ditentang oleh kalangan pekerja sosial sendiri. Ini sebenarnya yang lebih berat lagi bagi saya untuk memberi sebuah pengertian yang tepat. Namun saya akan mencoba berbagi sedikit ilmu yang saya dapat di Kuliah dan juga pengalaman saya dalam perjalanan mencari kebenaran.

Pandangan Kritis..

Ditengah maraknya prostitusi. Kemunduran taraf berfikir yang mundur dan primitif makin menjadi. Dan banyak lagi wabah Wahn(cinta dunia) yang menghampiri benak kaum muslim hari ini. Belum lagi dengan adanya fenomena yang mungkin akan mencengangkan kita semua. Angka aborsi yang kian meningkat setiap tahunnya menjadi salah satu bukti bahwa manusia sudah tidak memiliki sifat kemanusiaannya. HAM yang menjadi ujung tombak pun hanya menjadi alat belaka. Buktinya, semakin hari kondisi umat semakin memburuk, semakin terpuruk dan jauh dari ridho Allah SWT yang seharusnya menjadi tujuan utama seorang muslim yang mengaku dirinya masih beriman.

Sebagai seorang mahasiswa muslim yang sedang menempuh kuliah di jurusan Kesejahteraan Sosial, fenomena ini sangat menohok hati dan merenggut semangat untuk memperbaiki kondisi umat. Bagaimana tidak, mahasiswa yang katanya dipundaknya terdapat perubahan ke arah yang lebih baik, malah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa melihat kondisi umat yang semakin hari kian terpuruk.

Berangkat dari perpektif pekerjaan sosial, hal ini jelas adalah suatu masalah sosial yang “akut”, alias “parah”. Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang yang semakin menggila hari ini? Bagaimana pekerja sosial seperti saya yang notabene tidak memiliki kekuasaan apapun dapat merubah kondisi seperti ini? Apakah memang kita hanya dicetak untuk menjadi pemberi obat bukan pencegah wabah?. Saya rasa tidak, kita bisa berbuat lebih.

Pernikahan Dini?

Pernikahan Dini merupakan sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat, sebagai sebuah solusi alternatif, setidaknya menurut penawaran Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1983, melalui tulisannya berjudul Bagaimana Kalau Kita Galakkan Perkawinan Remaja? Ketika fitnah syahwat kian tak terkendali, ketika seks pranikah semakin merajalela, terutama yang dilakukan oleh kaum muda yang masih duduk di bangku-bangku sekolah, tidak peduli apakah dia SMP bahkan SD, apalagi SMA maupun perguruan tinggi.

Pernikahan dini bisa menjadi solusi alternatif dalam menyelesaikan masalah ini. Walau demikian, pertimbangan yang logis dan matang diperlukan agar solusi ini tidak salah sasaran. Artinya, dengan pernikahan dini, kita berharap bahwa angka prostitusi dan aborsi menurun. Selain itu juga, yang sangat perlu diperhatikan adalah kesiapan dari para remaja untuk melakukan pernikahan dini. Bukan semata-mata karena dorongan syahwat, melainkan kedua belah pihak telah siap secara sosial-emosional dan juga ekonominya.

Sekilas solusi diatas menjadi solusi yang bagus dan kemungkinan tepat untuk mengatasi masalah sosial ini. Padalah jika kita telaah sedikit saja, solusi ini sangat lemah dan rapuh. Dalam artian, pernikahan dini adalah konsep fatamorgana jika dilakukan ditengah kondisi masyarakat yang seperti saat ini. Artinya, yang harus kita rubah terlebih dahulu adalah kondisi dari masyarakat itu sendiri, disini yang saya maksudkan adalah lingkungan sosial yang akan mendukung program pernikahan dini. Sedang jika kita berbicara mengenai lingkungan sosial, maka kita akan berurusan dengan sistem suatu negara atau kebijakan-kebijakan yang ada. Inilah yang menjadi alasan mengapa pernikahan dini menjadi solusi fatamorgana yang tidak akan pernah bisa diterapkan di tengah-tengah kondisi umat yang semakin jauh dengan Islam. Sebab, sistem yang dianut Indonesia saat ini tidak mendukung bahkan tidak akan pernah mendukung konsepsi pernikahan dini sebagai solusi dari masalah sosial ini.

Kapitalisme, liberalisme dan sekularisme adalah biang kerok dari pokok permasalahan yang terjadi di Indonesia pada khususnya. Ketiga faham inilah yang mengkontaminasi setiap elemen yang ada dalam naungannya. Jadi secara tidak langsung, saya ingin menyatakan bahwa, ketiga sistem inilah yang menyebabkan terjadinya segala kejahatan, kerusakan(fasad) dan kedzaliman di sebuah Negara, termasuk prostitusi dan aborsi. Mengapa negara? Karena ketiga sistem ini hanya dianut oleh negara, bukan perorangan.

Potret Pekerja Sosial Muslim…

Pekerja Sosial Muslim memandang segala sesuatu bukan dari teori semata. Ia akan senantiasa menimbang segala perkara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain karena keimanannya, Pekerja Sosial Muslim juga memandang bahwa segala sesuatu yang turun dari Tuhannya adalah benar dengan membuktikannya secara empirik dan logis. Ia akan senantiasa memandang teori sebagai sesuatu yang bisa berubah seiring jaman dan waktu, sedangkan aturan Tuhannya tidak akan pernah berubah sampai akhir dunia ini. Ia pun akan senantiasa memandang segala sesuatu bukan dari manfaat(pragmatis) dan tidaknya suatu benda atau perbuatan, melainkan menimbangnya dengan halal haramkah dan boleh tidaknya dalam aturan yang telah di turunkan Tuhannya.

Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah sosial ini, pekerja sosial muslim akan menyelesaikannya dengan dasar syar’i dan teori yang relevan dengannya. Ia akan memandang segala sesuatu dengan objektif, penuh ketelitian dan juga tanggungjawab yang besar karena ia menyadari bahwa segala sesuatu yang ia lakukan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Jelaslah, orientasi seorang pekerja sosial muslim bukanlah sekedar membantu seseorang dengan memberikan asumsi dunia, melainkan juga akhirat.

Solusi TUNTAS!!

BRANTAS PROSTITUSI HILANGKAN ABORSI!!

Dengan konsep yang difokuskan oleh pekerjaan sosial sendiri, yakni keberfungsian sosial, maka kita akan dapati masalah ini adalah masalah sosial makro yang harus dilakukan pertolongan dengan beberapa pendekatan. Pendekatan itu meliputi pendekatan mikro dan makro. Hal ini didasarkan pada persentase angka prostitusi dan aborsi yang melebihi 50%. Artinya, permasalahan ini sudah menyangkut masalah sistem. Advokasi kebijakan dan juga pertolongan individu sangat diperlukan guna menyelesaikan masalah ini secara TUNTAS sampai ke akar-akarnya.

Pendekatan individu yang harus dijalani seorang pekerja sosial muslim yakni dengan metode-metode casework, tentunya yang sesuai dengan syariat Islam. Seperti melakukan terapi, bimbingan dan lain-lain. Hal ini juga diperlukan guna menahan angka prostitusi dan aborsi di Indonesia khususnya. Metode ini akan sangat berguna pada situasi-situasi kuratif. Maksudnya adalah, peran pekerja sosial secara mikro akan menangani kasus yang telah terjadi dengan berbagai metode sehingga dapat menahan dari berambahnya persentase juga menghalangi terjadinya masalah sosial berikutnya yang terjadi buah hasil dari masalah prostitusi dan aborsi. Dalam proses ini dilakukan pendekatan emosional dan spiritual, yakni dengan cara mengajaknya bertaubat dan mau bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Namun tidak cukup dengan melakukan hal ini saja. Jangan lupakan masalah intinya yakni masalah struktural sebagai fokus dari pendekatan makro.

Pekerja sosial muslim dalam perannya, senantiasa memandang dan menimbang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dasar dari segala kegiatannya. Maka ketika memandang masalah ini, pekerja sosial segera menyimpulkan bahwa ada kerusakan pada individu dan kebijakan yang memang tidak sesuai dengan perintah Allah SWT. Maka inilah yang akan ia intervensi, ia akan memperjuangkan agar hukum-hukum Allah diterapkan. Ia akan memandang bahwa betapa lemahnya aturan yang dibuat manusia sehingga menimbulkan kerusakan yang amat besar dan merugikan banyak orang.

Menerapkan hukum-hukum Allah sudah menjadi kewajiban dalam benak dan segala perbuatannya. Saya memandang bahwa akar dari masalah ini adalah tidak adanya aturan dan larangan berzina. Dalam Ideologi Islam sebagai “common Ideologi” Daulah Khilafah Islamiyah, perzinaan dipandang sebagai dosa yang besar. Para pelaku perzinaan akan diberikan hukuman yang berat, sehingga menimbulkan efek jera. Bagi yang sudah menikah, akan dihukum rajam sampai mati. Bila pezina masih bujangan atau gadis, maka hukumannya adalah dicambuk sebanyak 100 kali dan diasingkan. Dengan hukuman seperti ini, akan memberikan efek jera, bagi si pelaku maupun masyarakat. Hal ini akan menjadi efek jera bagi masyarakat disebabkan hukuman yang dilakukan dalam penerapan hukum-hukum Islam yakni menggunakan sistem transparansi. Artinya, setiap orang berhak melihat dan menyaksikan pemberian hukuman jilid maupun rajam dengan mata kepalanya sendiri.

Kendala..

Ada saja kendala di negeri yang menganut sistem SIPILIS(Sekulerisme-Pluralisme-Kapitalisme) ini. Bahkan peran pekerja sosial secara general pun amat sangat sempit. Peran yang harus dijalankan secara mikro, meso dan makro, hanya bisa dilakukan pendekatan mikro saja. Maksudnya adalah, pekerja sosial yang berada di negara kapitalis pada dasarnya tidak bisa dan takkan pernah bisa mengintervensi ke ranah struktural. Hal ini disebabkan karena negara yang menganut sistem ini akan senantiasa memberikan “intervensi balik”. Sebagai contoh saja, faham sekularisme akan menahan advokasi Pekerja Sosial Muslim dalam menerapkan hukum-hukum Allah, salah satunya penerapan sistem pidana Islam. Karena sekularisme memandang bahwa kehidupan harus dipisahkan dari agama. Ada lagi contoh lain, ketika kita menghadapi masalah kemiskinan, peran pekerja sosial yang harusnya dapat melakukan advokasi sosial malah tidak mampu bergerak. Fakta-fakta lain pun semakin menguatkan bahwa peran pekerja sosial di negara kapitalis adalah ilusi. Inilah konsep menyalahi kodrat yang dimiliki sistem kapitalisme yang berbuah dari sekularisme.

Secara garis besar, saya ingin menyampaikan bahwa sampai kapanpun peran pekerja sosial baik itu muslim maupun non muslim, selama ia berada di negara kapitalis demokratis sosialis sekularis dan kawan-kawannya, tidak akan pernah mampu menjalankan peran itu secara komprehensif. Sistem ini akan senantiasa menghalangi pekerjaan sosial untuk mengintervensi lingkungan juga kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam negaranya. Jadi, tidak usahlah kita berharap pada sistem ini jika masih merasa diri adalah pekerja sosial sejati! ^^

Optimis..

Sebagian kaum muslim merasa optimis dengan sistem Kapitalis saat ini. Selain mereka melupakan jatidirinya sebagai seorang muslim yang harus beruswah pada Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wa sallam. Sistem yang notabene sudah jelas bertentangan dengan ajaran Rasul ini memang senantiasa menggencet pergerakan pekerja sosial sendiri. Alih-alih ditinggalkan, malah dibela dan dikokohkan, sedang penerapan syariah dilupakan. Berangkat dari kondisi seperti ini, saya akan mengajak pada seluruh kaum muslimin terutama yang berprofesi pekerja sosial, yakni:

Wahai Kaum Muslimin, ketahuilah segala perbuatanmu selalu dicatat oleh malaikat-malaikatNya, maka gunakan waktu hanya untuk beribadah padaNya…

Wahai Kaum Muslimin, seruan kembali berhukum pada Hukum Allah telah sampai ditelingamu, mengapa kau tuli? Padahal berita kerusakan telah ada di mana-mana..

Wahai Kaum Muslimin, tegakkan Tauhid dalam dirimu, keluargamu, sahabatmu dan negaramu karena itu semua akan menjadi pertanggunganmu diakhirat kelak!

Wahai Kaum Muslimin, sudah jelas sistem kapitalisme dan sosialisme telah menghancurkan aqidah kita, mengapa kau masih senang bermain dengannya, masih segan pada penguasa zalim? Bukankah kau melihat? Saudara-saudaramu dibantai dan dibunuh? Apa kira kau tidak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak?

Kembalilah pada Allah dengan keadaan Muslim! Tegakkan Syariah Islam tinggalkan Kapitalisme dan demokrasi!

Wallahua’lam Bishshowwab[]

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 23 March 2012, in Opini, Pekerja Sosial Islami, Suara Kami and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. semoga pernikahan dini dilakukan bukan karena hamil duluan, tetapi untuk menghindari perzinaan…yg marak disebut sek pranikah…

    hapsari
    prosouvenir.com

  2. itu dia yang menjadi masalah… ^^
    di tengah-tengah sistem kehidupan yang sekuler, pernikahan dini yang didasari dengan keimanan sudah jarang… yang banyak karena terpaksa MBA(Married by Accident)..
    semoga kita dan anak keturunan kita tidak termasuk ke dalam golongan yang dilaknat Allah ini…^^ aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s