Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan Khilafah

oleh : Bhakti Aditya P. dari berbagai Sumber

Muqaddimah..

Banyak dikalangan mereka yang mengaku-ngaku Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Khilafah. Alasannya bervariasi, ada yang bilang “tidak boleh membangkang pada pemerintah lah”, “Khilafah hanya esensi lah” atau ratusan alasan-alasan yang intinya mereka tidak menyetujui khilafah bahkan menolaknya. Sungguh ironis, jika kita lihat dari sisi lain kehidupan seorang muslim hari ini, maka akan kita dapati bahwa umat muslim hari ini telah dipisahkan dari Islam. Malah, faham demokrasi yang jelas-jelas bukan ajaran Islam bahkan mengkufuri ‘Uluhiyyah Allah ini diterima dengan lapang tangan dan menolak Khilafah yang sudah jelas ajaran Islam dan Pemerintahan Islam yang syah.

Dari sini saya tergugah untuk membuat tulisan singkat yang mungkin takkan bisa menjelaskan secara gamblang hubungan Aswaja(Ahlussunnah Wal Jama’ah) dengan Khilafah. Namun setidaknya ada gambaran mengenai hubungan keduanya.

Aswaja…

Definisi Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah), menurut Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, adalah golongan kaum muslimin yang berpegang dan mengikuti As-Sunnah (sehingga disebut ahlus sunnah) dan bersatu di atas kebenaran (al-haq), bersatu di bawah para imam [khalifah] dan tidak keluar dari jamaah mereka (sehingga disebut wal jamaah). (Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Rumusan Praktis Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Solo : Pustaka Istiqomah, 1992, hal. 16). Definisi serupa disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Al-Ghaniyah, bahwa disebut ahlus sunnah karena mengikuti apa yang ditetapkan Nabi SAW (maa sannahu rasulullah SAW). Dan disebut wal jamaah, karena mengikuti ijma’ shahabat mengenai keabsahan kekhilafahan empat khalifah dari Khulafa` Rasyidin) (maa ittifaqa ‘alaihi ashhabu rasulillah fi khilafah al-a`immah al-arba’ah al khulafa` ar-rasyidin). (Balukia Syakir, Ahlus Sunnah wal Jamaah, Bandung : Sinar Baru, 1992, hal. 31).

Dari definisi di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa AhlusSunnah Wal Jamaah(Aswaja) adalah segolongan umat muslim yang berpegang teguh pada Sunnah Rasul dan bersatu diatas kebenaran(al-Haq), bersatu di bawah para imam (Khalifah) dengan kaidah Ushul Fiqh dan tidak keluar dari jamaah tersebut. Jika benar yang dikatakan para fuqoha diatas, maka inilah kriteria Aswaja yang sebenarnya. Dan Khilafah pun seharusnya bukan hal yang tabu dan perlu didebatkan akan kewajibannya di kalangan Aswaja yang notabene sangat lekat dengan Khilafah (Imamah). Tujuan saya menulis artikel ini, agar pembaca memiliki gambaran yang jelas mengenai hubungan Khilafan dengan Aswaja dan tidak menjadi salah arti dengan kata Khilafah.

Kewajiban Khilafah…

Khilafah adalah bentuk pemerintahan dalam Islam. Khilafah dan shalat adalah sama-sama kewajiban. Namun, jika kewajiban mendirikan shalat dengan mudah kita dapati dalilnya dengan fi’il amr yang jelas, tidak demikian dengan kewajiban mendirikan khilafah. Titik ini yang sering disoroti oleh orang-orang yang meragukan kewajiban mendirikan khilafah. Mereka mengatakan bahwa kewajiban menegakkan Khilafah tidak ada dalilnya.

Banyak dalil yang menunjukkan kewajiban menegakkan syariah. Di antaranya dalil tentang wajibnya mentaati Allah, RasulNya dan pemimpin (An-Nisaa : 59). Ayat ini mengharuskan adanya pemimpin yang menerapkan aturan Allah dan RasulNya. Pada Qur’an surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47, 48, dan 49 secara tegas mengandung perintah menerapkan syariah.

Setiap Aswaja sudah sepatutnya memahami akan kaidah ushul fiqh. Dalam memahami dan meng-ijtihadi sebuah hukum bagi perbuatan atau benda. Seperti salah satu kaidah fiqh “maa laa yatimul wajib ila biihi fahuwa wajib”. Kaidah yang dipelopori oleh Al Imam Al Ghazali ini bukan serta merta ada dengan sendirinya atau malah perkiraan belaka. Kaidah ini berdasarkan penelitian para ulama terhadap nash-nash Al Qur’an. Jadi jelaslah Ahlussunnah wal jamaah yang sebenarnya adalah mereka yang mengambil pula kaidah-kaidah ushul fiqh sebagai penentu sebuah hukum perbuatan atau benda.

Dalam hal wajibnya khilafah, Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi (w. 429 H) Dalam kitab Al-Farqu Baina Al-Firaq, karyanya menerangkan 15 prinsip Aswaja. Prinsip ke-12 adalah kewajiban adanya Khilafah (Imamah). Kata Abdul Qahir al-Baghdadi,”Inna al-imaamah fardhun ‘ala al-ummah.” (sesungguhnya Imamah [Khilafah] fardhu atas umat). (Lihat Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi, Al-Farqu Baina Al-Firaq, Beirut : Darul Kutub Al-Ilmiah, 2005, hal. 270). Dalam kitab Al-Masa`il Al-Khamsuun fi Ushul Ad-Din hal. 70, karya Imam Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) beliau mengatakan,”Mengangkat Imam [khalifah] adalah wajib atas umat Islam.” Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya ‘Ilmu Al-Kalam ‘Ala Mazhab Ahlis Sunnah wal Jamaah hal. 94 pada bab Mas`alah fi Al-Imamah.

Hal yang sama juga terdapat dalam kitab Al-Hushuun Al-Hamidiyah, karya Sayyid Husain Efendi, hal.189, beliau mengatakan,”Ketahuilah bahwa wajib atas kaum muslimin secara syara’ untuk mengangkat seorang Khalifah…” (i’lam annahu yajibu ‘ala al-muslimin syar’an nashb al-khalifah…).

Selain dalam kitab-kitab aqidah seperti dicontohkan di atas, dalam kitab-kitab tafsir, hadits, atau fiqih akan ditemukan kesimpulan serupa bahwa Khilafah memang kewajiban syar’i menurut paham Aswaja. Imam Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi (1/264) menyatakan,”Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya yang demikian itu [Khilafah] di antara umat dan para imam, kecuali yang diriyawatkan dari Al-Asham, yang memang asham (tuli) dari syariah (laa khilaafa fi wujubi dzaalika baina al-ummah wa laa baina al-aimmah illa maa ruwiya ‘an al-asham haitsu kaana ‘an asy-syariah asham…). Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (12/205) berkata,”Ulama sepakat bahwa wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang khalifah.” (ajma’uu ‘alaa annahu yajibu ‘ala al-muslimin nashbu khalifah). Imam Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniyah hal. 5 berkata,”Mengadakan akad Imamah bagi orang yang melaksanakannya di tengah umat, adalah wajib menurut ijma’.” (aqdul imamah liman yaquumu bihaa fi al-ummah waajibun bil ijma’).

Sekiranya penjelasan singkat mengenai wajibnya menegakkan Khilafah diatas cukup membangun pemikiran kita dan mau mengetahui lebih dalam lagi. Dan tidak hanya itu, sudah seharusnya sebagai aswaja yang “baik” dapat mengaplikasikannya di kehidupan. Dan ikut mendakwahkan tentang wajibnya Imamah (Khilafah) bagi umat.

Mengapa Harus Khilafah?

1.       Dalil Qur’an

Dalil Qur’an tentang wajibnya menerapkan khilafah adalah dalil-dalil kewajiban berhukum dengan syariah sebagaimana dipaparkan di atas. Selain itu, ada juga dalil Qur’an yang mencantumkan kata “khalifah” di dalamnya, yaitu ayat berikuti ini :

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Memang ada banyak penafsiran atas kata “khalifah”. At-Thabariy berpendapat bahwa “khalifah” yang dimaksud adalah pemimpin untuk kalangan jin. Sedangkan asy-Syaukani, an-Nasafi, dan al-Wahidi berpendapat bahwa maksudnya pemimpin untuk malaikat. Sedangkan Ibnu Katsir memaknai penyebutan “khalifah” karena manusia menjadi kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain (arti khalifah sendiri adalah pengganti.

Namun, ada pendapat keempat : maksud ayat di atas adalah manusia diturunkan untuk menjadi khalîfah bagi Allah di bumi untuk menegakkan hukum-hukum-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Pendapat ini dipilih oleh al-Baghawi, al-Alusi, al-Qinuji, al-Ajili, Ibnu Juzyi, dan asy-Syanqithi. Status ini bukan hanya disandang Adam as., namun juga seluruh nabi. Mereka semua dijadikan sebagai pengganti dalam memakmurkan bumi, mengatur dan mengurus manusia, menyempurnakan jiwa mereka, dan menerapkan perintah-Nya kepada manusia.

2.       Dalil hadits

Perhatikan hadits-hadits ini :

“Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.” Para Sahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajipan mereka.”
[HR. Muslim]

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi SAW disebut sebagai khalifah. Memang ini sifatnya khabar bukan perintah. Namun, sebuah hadits ahad tidak mungkin dijadikan dasar aqidah, dan oleh karenanya menjadi dasar amal. Maknanya, hadits ini mengharuskan kita beramal untuk mewujudkan khilafah.

3.       Dalil ijma shahabat

Ijma shahabat adalah tafsir terbaik atas Qur’an dan Sunnah. Para shahabat adalah rujukan pertama sekaligus standar kebenaran tatkala kita ingin memahami Qur’an dan Sunnah. Fakta menunjukkan bahwa para shahabat sibuk memilih khalifah bahkan hingga menunda pemakaman Rasulullah SAW.

Abu Bakar r.a. dibaiat sebagai khalifah, dengan sebutan yang memang “khalifah” lalu disepakati oleh para shahabat. Kesepakatan (ijma) mereka menjadi dalil bahwa khilafah itu wajib dan bahwa bentuk pemerintahan Islam adalah khilafah.

Ijma shahabat tidak mungkin diganggu gugat. Rasulullah SAW menjamin bahwa mereka generasi terbaik. Mereka adalah manusia terbaik dengan pemahaman yang terbaik atas apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Kata Para Ulama Tentang Khilafah

Kaidah fiqh yang disebutkan di atas menjadi salah satu pendapat ulama yang mendukung kewajiban pendirian khilafah. Selain itu, seluruh imam mazhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 362.

Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya.

Pendapat ulama lainnya tentang khilafah bisa dibaca di sini http://syabab1924.blogspot.com/2011/01/kewajiban-khilafah-dan-pandangan-ulama.html

Jelaslah bahwa mendirikan khilafah itu wajib, dan berdosa meninggalkannya. Tanpa khilafah, banyak aspek syariah yang terbengkalai. Di samping itu, mendirikan Khilafah adalah wujud ketaatan kita pada Allah SWT dan RasulNya. Jadi, jika ada pendapat bahwa kewajiban mendirikan Khilafah tidak ada landasannya dalilnya, apalagi ia mengaku Aswaja, (Ahlussunnah Wal Jamaah) maka entah dalil apa lagi yang dimaksud. Wallahu a’lam. []

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 28 February 2012, in Ammar Ma'ruf, Dakwah, Khilafah, Nahi Mungkar, Opini, Sejarah, Suara Kami and tagged , , , . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. Demokrasi dan Islam, hubungan nya agak rapat. Benar, demokrasi bukan terbit dari Islam. Tapi fahaman demokrasi itu sendiri berkait rapat dengan “syura” atau pun mesyuarat. Pemilihan secara demokrasi adalah selari dengan jiwa Islam.

    Dr.Yusuf al-Qaradawi said: “Surely the liberal democracy the best in my opinion is the political side, which is reflected in the representation of life enforcement, in which people can choose their representatives who will portray the legislative power in parliament, and in one chamber or two chambers.
    This election can only be reached through free elections and public, and who are eligible are receiving the most votes from the candidates who are affiliated to political parties or non-party.

    Yang paling utama, adalah meyatukan umat Islam supaya tidak berpecah mengikut mazhab masing2.

    Sultan, Kaizar, President, Perdana Menteri, Menteri – Itu hanya lah nama, jika mereka beragama Islam, mereka juga adalah khalifah Allah selagi mereka berlaku benar. Cara pemilihan pemimpin tidak sepatutnya menjadi isu.

    Di dalam sejarah Islam, pemimpin yang mengelarkan mereka -Khalifah juga kadang kadang mereka lebih zalim dari pemimpin bukan Islam. Wallahu a’lam.

  2. keren ,,tegaknya khilafah sebuah keniscayaan,,dalilnya sangat jelas cuma metodenya berbeda beda dari setiap harakah,,hizbut-tahrir,,salafy,,jamaah tablig,,syiah,,

  3. Apa yang ditulis oleh Abdul Qadim Zallum : Demokrasi Sistem Kufur ada benarnya maksud demokrasi it “Sekular demokrasi dipimpin oleh orang bukan Islam”. Jika ini yang dimaksudkan saya juga ingin berkata ia haram.

    Tapi kita orang Islam, demokrasi yang dimaksudkan adalah “Islamic Demokrasi”, Liberal yang dimaksudkan adalah “Wasatiah”. Jika demokrasi itu tidak halal, maka tentulah Allah telah mengharamkan nya secara total. Pendapat mengharamkan demokrasi adalah mengunakan “qias”.

    Pendapat saya, demokrasi boleh dijadikan alat untuk menyatukan umat sekarang ini. Buang yang haram, ambil yang halal. Jadikan parlimen tempat berdebat hadis2, tafsir dan fiqh. Demokrasi harus di Islamkan.

    Saya tidak begitu bersetuju dengan parti “Hizh ul Tahrir” kerana mereka tidak menberi satu penyelesaian bagi kes kalifah, cara pelantikan, pembentukan, sistem kuasa dan sebagainya.

    Sistem baiat, syura, shariah, seperti hudud, dan sebagainya telah mula dibawa kedalam sistem demokrasi. Kalau kerja daie, ulama hanyalah mengkafirkan orang yang tidak bersependapat, tentulah Islam akan dibenci.

  4. Manusia punya tangan, kepala, dan kaki…
    Monyet punya tangan, kepala, dan kaki…
    apakah MANUSIA sama dengan MONYET?
    Tentu TIDAK!!
    Islam ada Musyawarah(Syura)
    Demokrasi ada Musyawarah…
    apa ISLAM sama dengan DEMOKRASI?
    tentu TIDAKK!!
    Rasulullah punya metode untuk menegakkan Tauhid…
    dan beliau SAWW tidak menggunakan metode yang ditawarkan kaum Quraisy pada saat itu, karena tujuan rasulullah bukanlah menegakkan daulah…melainkan merubah pemikiran manusia dari menyembah thagut kepada tauhiid..
    ^^

    saya tetap akan mengatakan DEMOKRASI SISTEM KUFUR…
    tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa yang menjalankannya juga ikut KAFIR..
    bukankah ada uswah pada rasul yang WAJIB kita teladani dan lakukan…??
    ^^

    mohon ditelaah lebih dalam..
    berdiskusilah dengan syabab HT di sana,,, supaya jelas…
    diskusi di dunia maya hanya akan memberikan kebingungan yang semakin besar…
    selamat berdiskusi ^^
    Wsslm.

    • kalian berpendapat khalifah yang sejati adalah khalifah dalam lingkaran daulah islamiyah_mungkin saya setuju dengan itu tapi apakah harus seperti itu?, dan menolak semua metode yang itu tidak datang dari peradaban islam!!!
      ingat saudara_banyak hal dalam islam yang itu bukan murni datang dari islam tapi kemudian dikonversi ke dalam islam….

      sejarah buruk telah terjadi pada saat kekhalifaan_apakah anda tidak pernah membaca sejarah tersebut?????, ataukah andah menutup diri dari sejarah kelam islam pada masa kekhalifahan????

      dengan tanpa sadar kalian telah terbuai dengan ego kalian masing2_kaedah yang kalian pakai adalah suatu metode yang itu untuk menegakkan hal yang wajib maka metode tersebut bisa dikatakan wajib pula!!!!_tapi lagi2 apakah metode tersebut hanya satu dan tidak ada yang lain_dalam menyikapi sesuatu kita harus arif…..

      fastabiqul khairot…………….

      • lalu yang saya tanyakan adalah :
        apakah ada solusi lain untuk umat ini selain tegaknya syariat Islam dalam naungan Khilafah?? ^_^

      • Semua Masa dan Dinasti penuh darah…. Bukan cuma Khilafah…. Sejarah demokrasi juga penuh darah… Vietnam, Afghan, pakistan, mesir, dll yang memakai sistem demokrasi.

        Sejarah buruk memang ada… Tapi Sejarah menyatakan bahwa khilafah melindungi kehormatan kita sebagai umat yang satu.

        Sekali lagi apa “metode” selain “itu” yang anda maksud?

  5. Tertegaknya umah Islam adalah disebabkan kejujuran, kewibawaan, kepintaran, diplomasi, ramah, adab dan keadilan yang dibawa oleh ketua negara, penasihat/ulama, rakyat, dan tentera/polis/hakim. (semua terlibat bukan ketua negra sahaja)

    Prinsip-prinsip utama dalam Islam bukanlah menegakan kalifah, tetapi menyampai dan menasihatkan.

    Prinsip-prinsip politik dalam Islam adalah Wasatiah (kesederhanaan), keadilan, keadilan sosial, menasihati pemerintah.

    Soalan seperti “apakah ada solusi lain untuk umat ini selain tegaknya syariat Islam dalam naungan Khilafah??” tidak sepatutnya ditanya oleh sebuah negara yang diperintah oleh Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, UAE, Arab Saudi dan lain-lain. Kerana sememangnya negara kita adalah negara umah Islam dan diperintah oleh manusia yang mengaku dirinya seorang Muslim (walaupun mungkin diragui).

    Jika maksud kalifah itu nabi, nabi terakhir sudah dilahirkan dan telah meninggal dunia (Nabi Muhammad s.a.w)

    Jika maksud kalifah itu Imam Mahadi/Nabi Isa, kita tidak mengetahui masa depan. Ini adalah masalah qada/qadar, kita hanya mengetahui ciri-ciri dan bukan kepastian.

    jika maksud kalifah itu Ahli Bait, Yahudi antara orang-orang yang layak kerana mereka adalah keturunan Nabi yang besar-besar.

    Jika kalifah itu kalifah Ottoman Empire, ketahuilah, kalifah Umar, Abu Bakar, Ali, Uthman bukan berasal dari Turki.

    Jika maksud kalifah itu seorang bernama yang Muslim, semua negara Islam sekarang adalah diperintah oleh Muslim. (Hadis melarang Muslim mengkafirkan seorang muslim yang lain selagi mengaku dirinya menganut Islam).

    Disini, pada pendapat saya, tertegaknya Islam bermula pada diri sendiri, keluarga, kampung, negeri, negara, dan pemimpinnya. Mencari pemimpin bukan bermula dari mencari kalifah, tetapi pemimpin (golongan muda) harus dilatih, diberi tunjuk ajar, dan sebagainya untuk menjadi pemimpin masa hadapan.

    Saya tegaskan sekali lagi, untuk menegakkan Islam – asas politik Islam harus ditegakkan terlebih dahulu. Menyampaikan, ibadat, keadilan, saksama, wasatiah, silaturahim, ilmu, pendidikan, kesihatan, muamalat, kebersihan, haruslah dijadikan asas -asas dalam politik Islam.

    Wallahu a’lam.

  6. Pertanyaan untuk Saudara Hifzan..
    Hukum Qisas apa telah diwujudkan oleh pemimpin yang ada?
    Ekonomi ribawi yang katanya “dharuri” kenapa mash dpertahankan? Jelas-jelas penyebab menumpuknya hutang kita. Pemimpinnya memang Islam, tapi sistemnya????????
    Sistem itulah yang membelenggu pemimpin tersebut tidak dpt melaksanakan hukum Syara’.

    Sistem Khilafah adl institusi utk mengemban misi syariah. Qisas, diyat, tak bisa dilaksanakan dan tidak boleh dilakukan kalau tidak dengan institusi. “Sediakan wadah dulu, baru memetik apel. Bukan sebaliknya, jadinya apel terhambur kemana-mana.

    Marilah nanti kita pilih pemimpin yang jujur, amanah dan bersyariah.
    Islam adalah berserah diri, maka kita serahkan kepada hukum Allah.

    • Syukron dah bantu jawab😉

    • Minta maaf, saya tidak perasan ada pertanyaan.

      Kalau hukum Islam tu bukan ada Qisas sahaja, mungkin hujah tuan itu hebat. Tapi kita ada qisas, hudud, diyat, takzir. Ada juga sistem permaafan, penundaan hukuman. Adakah tuan bilang jika adanya Qisas, itu sudah Islam?

      Kamu berkata tentang wadah, jadi kenapa tidak sahaja menulis hukum hudud, qisas, dan bentangkan dalam parlimen tuan. Saya bukan ingin memperkecilkan hukum Allah tapi disebabkan orang yang membawa ilmu Tuhan in berpemikiran rendah dan daif. Menyebabkan ilmu Tuhan diperkecilkan.

      Saya ingin bercerita satu kisah:

      Ada orang bertanya kepada Imam Bukhari tentang hadis daripada Imam Ali terlalu sedikit di dalam Shahih Bukhari sedangkan kita tahu bahawa Imam Ali adalah khalifah Ahlul Sunnah yang terhebat.

      Imam Bukhari berkata, bukan kerana saya tidak mahu menulis hadis dari Imam Ali, tapi saya tidak mempercayai kamu (yakni ahli Rafidah) yang membawa khabar hadis. Kerana kamu terlalu memperbesarkan Imam Ali dan kadang-kadang mempertuhankan Ali. Kerana itu juga banyak hadis dari Imam Ali yang label sebab daif atau palsu.

      Moral dari cerita ini, bukan hukum Allah itu lemah, tapi mereka-mereka yang membawa slogan ketuhanan itu lemah menyebabkan keseluruhan sistem itu nampak lemah.

      Nabi S.A.W tidak menunngu khalifah, dia membuat dari tiada sehingga Islam terbina. Sedangkan kamu menunggu? Menunggu khalifah turun dari langit seperti kaum Yahudi yang menunggu hidangna dari langit? Adakah kamu ingin menjadi Nasrani yang menugggu turunnya Nabi Isa a.s?

      Ada satu hadis:

      Satu hari seorang sahabat datang berjumpa Rasul. Apabila baginda bertanya bagaimana kamu datang, beliau menjawab, menaiki unta. Nabi tanya; di mana unta kamu, beliau menjawab saya biarkan tanpa diikat sebab saya bertawakal kepada Allah. Nabi berkata; ikat unta kamu dulu dan barulah bertawakal.

      Nabi menyuruh mengikat unta terlebih dahulu dan bertawakal bermaksud usaha dan tawakal itu datang bersama bukan berasingan

      Kisah ulama dan pemimpin:

      Pernah suatu ketika Abu Zar meminta jawatan dalam kerajaan daripada Rasulullah SAW, tetapi telah ditolak. Mengapa?
      Ini jawapan Rasulullah SAW:
      “Aku lihat kamu adalah seorang yang lemah (tidak berupaya) melaksanakan tugas dengan baik, aku menyayangimu seperti aku sayangi diriku sendiri.” (Riwayat Abu Daud)

      Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW telah bersabda:

      ”Ya Abu Zar, aku lihat engkau seorang yang lemah dan aku suka engkau mendapatkan sesuatu yang aku sendiri menyukainya. Janganlah engkau memimpin dua orang dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim.” (Riwayat Muslim)

      Abu Zar adalah seorang yang alim dalam ilmu agama tapi juga ditolak dalam pentadbiran kerana kelemahan nya dalam berpolitik. Hadith diatas juga adalah salah satu hadis dalam sistem berkhalifah, kenapa tua tidak mahu mendengar hadith diatas?

      Wallahualam.

  7. keren bung . . gimana cara nerapis khalifaan di indonesia

  8. yang punya blog mau dirikan khilafah tapi kayaknya mau jd PNS kan hahaha saya yakin ga bakalan berani keluar dr PNS…ngomong tegakkan khilafah itu gampang tp paling berat keluar dr PNS hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s