Apa itu Bid’ah?

oleh : Afa Silmi Hakim

الحمد الله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه

ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليماً أما بعد :  

Pembahasan ini termasuk pembahasan yang rumit, dan panjang, sekaligus sensitif bagi beberapa harakah islam. Dan permasalahan ini sering menjadi polemik di antara kaum muslimin, Maka dari sini dengan keterbatasan ilmu yang saya punya, saya mencoba menyampaikan apa yang saya pahami benar tentu dengan dalil dan pemahaman para ulama atas permasalahan ini, agar permasalahan ini tidak menjadi polemik yang berkepanjangan dan saya mencoba menyampaikannya secara ringkas.

Sebelum kita bahas apa itu Bid’ah sebaiknya kita tengok teori ushul fiqh dalam memaknai sebuah lafadz, karena hal ini ada kaitannya. Memaknai lafadz itu bisa dibagi menjadi dua yaitu makna hakiki ataupun makna majas jika ada qarinah tertentu sehingga dapat dialihkan dari makna hakikinya. Makna hakiki pun dibagi menjadi tiga, yaitu al-Haqiqah al-Lughawiyah (makna bahasa), al-Haqiqah al-Lughawiyah al-Urfiyah (Makna Tradisi), al-Haqiqah al-Lughawiyah asy-Syar’iyah (makna syar’i). Terkadang hadits-hadits nabi yang membawa lafadz bid’ah datang dengan makna syar’i terkadang datang dengan makna bahasa begitulah penjelasan oleh guru kami Ust. Yuana Ryan, MA.  Oleh karena itu sangat penting untuk kita memahami bid’ah dengan beberapa pengertian tersebut. Dan dari memahami makna tersebut maka kita akan menempatkan permasalahan bid’ah itu sebagaimana mestinya?

Definisi Bid’ah menurut bahasa sebagai berikut:

Bid‘ah berasal dari kata bada’a- yabda‘u-bad‘an wa bid‘at[an] yang artinya adalah mencipta sesuatu yang belum pernah ada, memulai, dan mendirikan. Bada‘a asy-syay‘a,artinya, Dia menciptakan sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada. (Kamus al-Munawir, hlm. 65)

Menurut Imam as-Syathibi Bid’ah berasal dari kata bada’a menunjukkan arti al-ikhtiraa’ ‘ala ghairi mitsaal saabiq (menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, dan sebelumnya tidak pernah ada).  Al-Quran telah menunjukkan makna semacam ini;

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia Hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” lalu jadilah ia.” [TQS Al Baqarah (2) : 117]. Maksud ayat ini adalah; Allah menciptakan langit dan bumi sama sekali baru, yang sebelumnya tidak pernah ada.  Jika di katakan Ibtada’a fulaan bid’ah ya’niy ibtada`a thariqah lam yasbiqhu ilaihaa saabiq; si fulan menciptakan bid’ah, artinya adalah ia mengawali suatu jalan (metode) yang belum pernah diadakan oleh orang sebelumnya. (Al-‘Allamah Abu Ishaq as-Syathibi, al-I’tisham, I/3)

Jadi Bid’ah menurut bahasa adalah segala sesuatu yang baru yang tidak memiliki contoh sebelumnya atau belum pernah dilakukan sebelumnya atau belum pernah ada sebelumnya terlepas itu baik atau tidak.

Sedangkan bid’ah dalam makna syar’i adalah sebagai berikut:

Imam asy-Syafi‘i menyatakan al-Muhdatsah (sesuatu yang diada-adakan) adalah apa-apa yang menyalahi al-Kitab, as-Sunah, atau Ijma Sahabat merupakan bid‘ah yang sesat (dhalâlah) (Muhammad al-Khathîb asy-Syarbini, Mughni al-Muhtâj, 4/436)

Imam as-Syathibi  berkata bahwa bid’ah dalam makna syar’i adalah tata cara dalam agama (ibadah) yang sengaja dibuat dan menyerupai syariat dengan tujuan mengekspresikannya dalam bentuk tingkah laku yang bersandar padanya, seperti yang dijalankan pada tata cara syariat. ( Al-‘Allamah Abu Ishaq as-Syathibi, al-I’tisham, I/5)

Ibnu Hajar al-Haytsami menyatakan bid‘ah adalah apa saja yang diada-adakan, yang menyalahi ketentuan syara’ dan dalil-dalilnya, baik yang khusus maupun umum. (At-Tabyîn bi Syarh al-Arba‘în hlm. 221)

Ibnu Hajar al-’Ashqalani dan Ibnu Rajab al-Hanbali menyatakan bid’ah adalah apa saja yang diada-adakan, yang tidak mempunyai dasar syar‘i yang ditunjukkan dalam syara’, sedangkan yang mempunyai dasar syar‘i maka ia tidak termasuk bid‘ah.( Fath al-Bâri, 13/253; Jâmi’ al-’Ulûm wa al-Hukm, 1/266)

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa bid’ah dalam makna syar’i adalah suatu perbuatan baru dalam tata cara ibadah yang tidak memiliki dasar syar’i dan bertentangan dengan nash-nash yang syar’i baik dari dalil-dalil umum maupun khusus.

Terkadang hadits-hadits nabi yang membawa lafadz bid’ah datang dengan makna syar’i terkadang datang dengan makna bahasa, sebagai contoh:

فا ن خير الحد يث كتا ب الله و خير الهد ى هد ى محمد و شر الا مور محدثا تها وكل بدعة ضلا لة (رواه مسلم)

Sesungguhnya Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi wassallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan (bid’ah) dan setiap Bid’ah adalah sesat.

(dari Sahabat Jabir bin Abdullah r.a. HR. Muslim : 1435)

Hadits diatas semakna dengan hadits dibawah ini:

عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” رواه البخاري ومسلم 

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”). (Bukhari: 2697, Muslim: 1718) 

Kata “Raddun” menurut ahli bahasa adalah tertolak atau tidak sah. Kalimat “bukan dari kami” maksudnya bukan dari hukum kami (yaitu tidak ada dasar di Al-Qur’an dan As-Sunnah). ( Syarah Arba’in Nawawi, Ibnu Daqiqil ‘Ied)

Hadits diatas menjelaskan bahwa setiap amal tanpa ada dasar syari’atnya maka dia tertolak atau tidak sah sedangkan amal yang ada dasar syari’atnya maka ia dapat diterima dan bukan termasuk bid’ah .

Maka Hadits diatas adalah contoh bid’ah dalam makna syar’i, sedangkan contoh berikutnya ini adalah bid’ah dengan makna bahasa:

أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة – رواه أبوداود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku(jalanku) dan sunnah (jalan) Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi,imam Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Shahih)

Menilik siyaq al-kalam (alur pembicaraan) hadits ini, bid‘ah yang dimaksud adalah bid‘ah dalam masalah kepemimpinan dalam artian menggunakan makna bahasa, bukan bid‘ah dalam masalah ibadah (makna syar’i yang saya sampaikan di atas). Karena disini lafadz sunnah menggunakan makna bahasa yaitu jalan, karena sunnah dalam makna syar’i yang disepakati oleh para ulama ahli hadits dan ulama ushul adalah segala hal menyangkut hal ihwal tentang diri Rasul SAW saja bukan manusia yang lain ataupun Khulafa’ur Rasyidin. Maka jelas hadits ini tidak berbicara tentang ibadah, tetapi hanya berbicara tentang kepemimpinan saja.

Maka karena itu setiap perbuatan yang menyalahi syara’ adalah bid’ah. Hanya saja, memang  tidak semua perbuatan yang tidak ada dalam syari’at atau tidak ada pada masa Nabi SAW dikategorikan  bid‘ah. Terdapat banyak perbuatan yang sebenarnya didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat umum. Perbuatan-perbuatan semacam ini tidak disebut sebagai bid‘ah. Contoh, mempelajari Ilmu Nahwu, kimia, komputer, dan sebagainya. Semua itu termasuk dalam cakupan dalil-dalil umum tentang menuntut ilmu.

Memang, semua itu tidak dijelaskan oleh syara’ (secara eksplisit); juga belum ada pada masa Rasul. Namun, semuanya termasuk ke dalam cakupan dalil-dalil yang bersifat umum. Ibnu Hajar al-Ashqalani menyatakan, “Sesuatu yang diada-adakan, yang mempunyai asal (pokok) dalam syara’ yang menunjukkannya tidaklah termasuk bid‘ah.

Walhasil, bid‘ah adalah perbuatan yang menyalahi syara’. Dan  Ini tidak berlaku untuk semua jenis perbuatan, tapi hanya berlaku pada perbuatan yang telah ditentukan tatacara (kayfiyah) pelaksanaannya oleh syara’. Seorang Muslim wajib untuk melaksanakan suatu perbuatan sesuai dengan tatacara yang telah ditentukan oleh syara’ itu. Jika ia menyalahi ketentuan itu maka ia telah melakukan bid‘ah. Seperti sholat 2 bahasa, Sholat cukup dalam hati saja, Puasa Ngebleng alias puasa gak berbuka ketika maghrib ini jelas adalah bid’ah. Karena semua hal yang saya sebut di atas sudah ditentukan kayfiyahnya (tata cara) oleh syara’ dan kita tidak boleh merubah hal tersebut.

Jika diteliti dan dianalisis akan jelas bahwa syara’ memang tidak membatasi tatacara (kayfiyah) pelaksanaan perbuatan kecuali dalam masalah  ibadah (selain hukum jihad). Selain masalah ibadah, syara’ tidak membatasi  tatacara, melainkan  hanya menentukan tatacara pengelolaan/tindakan (tasharrufât)-nya. Menyalahi tasharruf yang telah ditentukan oleh syariat tidak disebut sebagai  bid‘ah, tetapi bisa  haram atau makruh, sesuai dengan penunjukan dalil larangannya. Penggunaan bunga Bank misalnya, bukanlah bid’ah, hanya saja ia haram. Memerangi orang kafir yang belum pernah tersentuh dakwah tanpa didakwahi terlebih dulu tidak disebut sebagai perbuatan bid‘ah, tetapi tidak boleh.

Sementara itu, dalam jihad, sekalipun hal itu adalah perbuatan ibadah, syariat tidak menentukan tatacaranya, melainkan hanya menentukan perkara-perkara yang berkaitan dengannya. Karena itu, dalam jihad tidak dikatakan adanya bid’ah dan bukan bid’ah.

Maka yang disebut dengan perbuatan bid’ah adalah melaksanakan suatu perbuatan yang merupakan bagian dari  Ibadah,  dan tatacaranya  menyalahi tatacara  yang telah ditetapkan  syara’.

Wallahu’alam bi showab…

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 5 February 2012, in Ammar Ma'ruf and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Saya mau tanya kak.. kata orang orang tahlil itu bid’ah ya?
    soalnya didaerahku sedikit yang tahlil

    • itu tergantung dari konteks kita mengambil fiqh, karena hal itu mengandung perdebatan dan juga perbedaan diantara ulama’…
      jadi kita tinggal pilih dan ikuti yang memang memiliki hujjah dan dalil yang kuat…
      selama tahlilan tidak dijadikan sebagai suatu yang wajib, dan hal ini tidak menjadikan seseorang musyrik(karena tahlil kan isinya do’a do’a), menurut pandangan dan fiqh yang saya ambil, tahlilan boleh-boleh saja,, ^^

  2. Antum sungguh bijak,,lanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s