INTELECTUAL CAPITAL KEPEMIMPINAN MUHAMMAD SAW.

INTELECTUAL CAPITAL KEPEMIMPINAN MUHAMMAD SAW. DALAM SETIAP PEPERANGAN

(Dikutip dari Buku Muhammad Saw on The Art of War, 2007, Progressio, karya Yuana Ryan Tresna)

Oleh Yuana Ryan Tresna

Perjalanan kepemimpinan Rasulullah Saw. merupakan suatu proses kreatif dan berlangsung secara terus menerus bagi para sahabatnya, berkembang, serta beradaptasi dalam mengahadapi kebutuhan. Oleh karena itu, intelektual kapital merupakan konsep yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik lagi di waktu berikutnya. Dengan kalimat lain, intelektual kapital ini berfungsi untuk learn how to learn (belajar cara belajar) dan sebagai muatan utama dalam membangun kinerja manajemen (performance management) perang.

Mengadaptasi pandangan Peter Senge (1990), fenomena tim perang kaum Muslim pada masa Rasulullah Saw. tersebut, dikatakan sebagai Learning Organization (organisasi pembelajaran). Serangkaian peperangan yang dilalui oleh Rasulullah Saw. sampai akhir hayatnya, tidaklah berlalu begitu saja. Semuanya mengandung pelajaran bagi para sahabat, bahkan bagi Rasulullah Saw. sendiri. Semuanya larut dalam “proses pembelajaran”. Sehingga timnya Rasulullah Saw. merupakan tim yang secara terus menerus melakukan inovasi ketika tingkat kompleksitas lingkungan perang semakin tinggi. Hal itu dapat dilihat dari karakteristik tim perang yang dibangun oleh Rasulullah Saw.

Personal Mastery (Penguasaan Personal) Disiplin ini merupakan upaya untuk memperbesar kapasitas pribadi para sahabat Rasul. Mereka melakukan proses pembelajaran tiada henti. Mereka pandai memetik pelajaran dari setiap kejadian. Pengembangan kapasitas pribadi para sahabat ini sangat berpengaruh terhadap keberanian sahabat yang lainnya. Learning by knowledge, learning by doing, dan learning by experience adalah metode belajar yang nampak dari para sahabat. Ibnu Abbas ra. adalah contoh sahabat yang senantiasa belajar untuk mencintai berbagai kebaikan. Ia berkata, “Sungguh setiap kali aku menemukan pemahaman sebuah ayat al-Qur’an, aku selalu menginginkan agar setiap orang juga mengetahui seperti yang kuketahui.” (Sanqarith, 1997).

Mental Model (model mental) Hal ini merupakan penjelasan bahwa Rasulullah Saw. dan para sahabat adalah orang-orang yang bermental ‘menang’, tidak dipenuhi rasa takut dan kecemasan. Respon dan perilaku para sahabat itu dipengaruhi oleh cara pandang mereka terhadap jihad sebagai aktifitas ibadah. Mental para sahabat jauh dari sifat picik, oportunis, dan hipokrit. Semua aktifitasnya dalam berperang didasarkan pada ketataan kepada Allah Swt. Dari sinilah muncul kepercayaan diri, bahwa Allah Swt. adalah penolong dan pemberi kemenangan dalam setiap peperangan. Mereka yakin atas firman Allah Swt: “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia.” (TQS. Al-Mukmin: 51)

Shared Vision (Membangun Visi Bersama) Hal ini menyangkut bagaimana Rasul dan para sahabat berbagi visi bersama tentang masa depan. Tujuan, nilai, misi, akan berdampak luas jika visi tersebut dipahami secara jelas dan dimiliki oleh semua pihak. Gambaran Islam di masa mendatang merupakan gambaran indah pemerintahan Islam, tim jihad, Rasulullah Saw., dan para sahabatnya. Visi bersama telah melahirkan komitmen kokoh para sahabat. Sukses Rasulullah Saw. adalah ketika mampu mengomunikasikan visi kepada para sahabatnya. Rasulullah Saw. “menciptakan” visi dan para sahabat menerjemahkan visi tersebut dengan senang hati. Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ahzab ayat 22 menjelaskan hal ini saat terjadi tragedi perang Ahzab: Ketika orang-orang Mukmin melihat golongan sekutu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Maha benar Allah dan Rasul-Nya dan yang demikian tidaklah menambah mereka kecuali iman dan ketundukan

Selain itu, visi juga dapat menumbuhkan rasa optimis. Abdullah bin Amru bin Ash berkata, “Tatkala kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah Saw., beliau ditanya, ‘kota manakah yang ditaklukan terlebih dahulu; Konstantinopel ataukah Roma?’ Rasulullah Saw. menjawab,’Kota Heraclicus (Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur) ditaklukan lebih dahulu…’ (HR. Ahmad)

Team Learning (Pembelajaran Tim) Para Sahabat selalu berpikir untuk ‘tim’ dan selalu belajar bagaimana cara belajar (learn how to learn) dalam konteks tim. Para sahabat mampu menempatkan dirinya dalam konteks tim, bukan kepentingan individu. Mereka berpikir secara bersama, berdialog, dan saling melengkapi satu sama lainnya. Individu merupakan satu unit yang tidak dapat dipisahkan dari unit lain.

Kecintaannya kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. telah menjadikan mereka padu. Kepentingan perang (jihad) merupakan kepentingan agama yang menjadi prioritas utama. Tim jihad adalah tim ibadah dan tim ketaatan. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Khubaib bin ‘Adiy, pada perang Ar-Raji’ tahun ketiga Hijriyah, yang menyenandungkan syair saat disergap dan hendak disalib oleh musuh:

Pasukan itu telah berkumpul di sekelilingku, lalu mendorong suku mereka untuk mengumpulkan segala kekuatan. Hanya kepada Allah aku adukan segala keterasingan dan kesulitanku. Pasukan itu bukan diperuntukan untukku, saat kutelusuri jalanku. Mereka hanya memberi pilihan kafir dan kematian, bukan yang lain. Telah bengkak mataku karena sedih. Tak peduli aku dibunuh saat menjadi muslim, dalam kedaan apapun hanya kepada Allah, jalanku.Takkan kutampakkan (rasa takut) pada musuh itu dengan kerendahan pula dengan kehinaan. Hanya kepada Allah tempatku kembali. (Sanqarith, 1997)

System Thinking (Pemikiran Sistem) Rasulullah Saw. dan para sahabat belajar bagaimana cara menyingkap segala sesuatu secara holistik sistemik. Jantung berpikir sistem adalah kesadaran dan keterkaitan dirinya dengan tim pasukan perang, keterkaitan tim dengan fungsi negara, keterkaitan negara dengan seluruh dunia.

Membuat kondisi yang kondusif untuk menyebarluaskan Islam merupakan bagian dari dakwah negara. Dengan kondusifnya lingkungan, Islam dapat dengan mudah dipromosikan kepada daerah lain dan kepada seluruh umat manusia. Para sahabat dapat memetik pelajaran dari perjanjian Hudaibiyah, bahwa pandangan strategi itu harus holistik. Harus mampu menjangkau masa depan, di mana Islam dapat dengan mudah tersebar di seluruh Jazirah Arab. Pandangan yang mampu menjangkau bagaimana Makkah ditaklukan, serta bagaimana Thaif dan Yahudi bani Khaibar diperangi.

untuk tulisan aslinya klik disini

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 7 September 2011, in Ammar Ma'ruf, Berita Islam, Buku, Dakwah, Jihad, Khilafah, Nahi Mungkar, Pengetahuan dan Informasi, Suara Kami and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s