Label Fundamentalis dan Radikal Pada Pemuda Pengemban Risalah Dakwah

Sejatinya pemuda adalah pemangku perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Dengan semangat yang menggebu-gebu juga pola fikir yang kritis, pemuda dapat mengubah dunia. Seperti yang dikatakan Presiden RI pertama Soekarno “Berikan saya 10 pemuda, maka akan ku goncang dunia”. Tak ayal dalam dunia perpolitikkan pemuda jua ikut andil di dalam penentuan akan dibawa ke mana bentuk politik suatu Negara. Maju tidaknya sebuah Negara, tergantung dan dapat trgambarkan dari para pemudanya.

Hari ini yang terjadi malah pemuda tidaklah dibuat untuk kritis dan ikut mencampuri urusan yang sudah menjadi bagian dari diri pemuda. Bahkan, hari ini pemuda hanya dijadikan tameng dan dibuat tidak mampu bertanya tentang apa yang diperjuangkannya. Seperti diberitakan dalam berbagai media massa, pemuda malah hanya mengurusi hal-hal yang dianggap ada di permukaan saja tanpa tahu akar dari sebuah permasalahan. Oleh karena itu, kita seutuhnya membutuhkan pemuda yang sebenar-benar pemuda. Yang dikatakan Soekarno sebagai pengguncang dunia. Siapakah mereka?

Pemuda adalah…

Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik ditinjau dari fisik maupun psikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.

Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

1.      Berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).

2.      Memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS. Al-Kahfi,18: 13-14).

3.      Seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Itulah yang disebut sebagai pemuda dalam arti yang sebenarnya.

Label atau Doktrin?

Sebagai pemuda, sudah seharusnya menjadi agen perubahan pada diri, keluarga, bangsa, agama juga negaranya. Pemuda juga ditugaskan sebagai agent of change dalam berbagai hal. Perubahan yang seperti apa? Tentu ke arah yang lebih baik dan positif maknanya. Label agent of change pun terpampang pada punggung pemuda idealis yang tercermin dari banyaknya pemikiran-pemikiran yang beredar disekitar kita. Seperti Sosialisme, Demokrasi, Pluralisme, dan isme-isme lain yang dibawa pemuda ini mulai menjadi perhatian para penguasa. Namun sayangnya, pelabelan yang seharusnya dibarengi pemahaman yang benar juga obyektif malah isme-isme ini langsung ditelan mentah-mentah oleh pemuda akibat taqlid buta mereka pada satu tokoh atau peran-peran tertentu. Inilah yang menjadi bahaya utama ketika pemuda tidak memiliki kepemimpinan berfikir(al-Qiyadah al Fiqriyah). Doktrin pasif yang menyebabkan kemunduran pemikiran para pemuda dewasa ini sebenarnya tidaklah mampu memberikan kepuasan berfikir. Namun, karena doktrin yang diberikan terlalu kuat, maka kemunduran itu tidak bisa dihindari.

Ideologi seorang Pemuda Muslim…

Iman adalah pembenaran yang pasti. Seorang muslim haruslah menyadari bahwa Aqidah Islam(al Aqidah al Islamiyah) memiliki pengertian mengimani Allah, Kitab-kitabNya, Malaikat, Rasul, Hari akhir dan Qadha dan Qadar yang baik maupun buruk dengan membenarkannya secara pasti. Maksudnya, kita haruslah yakin akan ke enam rukun iman itu 100%, bukan 99,999999%. Artinya tidak ada keraguan(zhann) sedikit pun terhadapnya. Itulah yang dimaksud dengan pembenaran yang pasti(Iman). Dari kerangka berfikir seperti inilah lahir sebuah Ideologi yang agung, Ideologi Rabbani yang mendaulatkan keputusan dan hukum Rabb di atas segala-galanya, Ideologi yang membangkitkan kemunduran pemikiran dan kejahiliyahan akhlak, risalah yang dibawa seorang yang sempurna Muhammad SAW sebagai jawaban dan rahmat bagi seluruh alam. Ideologi ini lah yang disebut sebagai Ideologi ISLAM.

Islam hadir di tengah-tengah kehancuran dan kegagalan Ideologi-ideologi lain. Sebagai jawaban dari segala permasalahan, Islam juga memiliki konsep secara menyeluruh dan paripurna karena memang ia adalah sebuah Ideologi. Tidaklah dikatakan suatu pemikiran atau faham itu sebagai Ideologi melainkan jika ia melahirkan sistem kehidupan. Islam telah diberi legitimasi oleh Allah sebagai agama(diin) yang sempurna. Oleh karena itu sudah selayaknya Islam dikatakan sebagai Ideologi Rabbani karena memang Rabb Semesta Alam sendiri lah yang menyatakannya. Inilah Ideologi yang sempurna yang seharusnya dibawa oleh para pengemban dakwah, khususnya para pemuda muslim untuk diemban dan disebarkan sebagai integrasi dari pemahaman bahwa Islam adalah sebuah Ideologi. Seorang muslim tidaklah boleh mengambil Ideologi selain dari Islam. Karena tuntutan aqidah yang tadi telah dijelaskan sebelumnya tidak memberikan celah untuk kita sedikit saja mengimani yang lain selain yang rukun iman yang 6 sebagai aplikasi dari tasydiq al jazm(Pembenaran yang pasti) itu sendiri. Harus kita pahami, mengambil Ideologi lain berarti mengambil peraturan dan hukum lain selain Islam. Itulah yang berbahaya. Karena hal itu dapat membatalkan Aqidah seseorang. Oleh karena itu, berhati-hatilah.

Fundamentalis, Radikalis!!!

Pemikiran satu dengan yang lain adakalanya saling bertolak belakang bahkan saling menyerang. Dalam hal ini, kita harus menyikapinya secara obyektif dan sesuai fakta. Bukan hanya sekedar mengekor dan bertaqlid buta semata. Secara harfiyah, Fundamentalis sendiri belum ditemukan secara pasti mengenai pengertiannya. Yang jelas, label Fundamentalis ini diberikan kepada kaum nasrani yang mengusung kebenaran mutlak pada ajaran injil yang disebut sebagai dosa besar. “Fundamentalisme” itu sendiri dikarenakan kemunculannya bermula pada pengistilahan yang dipakai oleh kaum protestan Amerika awal tahun 1900-an untuk membedakan diri dari kaum protestan yang lebih liberal. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Fundamentalis tidak lah cocok dibubuhkan pada dada seorang pengemban dakwah yang membawa risalah yang sempurna yaitu Islam. Karena sejatinya Islam bukanlah agama yang diturunkan Allah pada suatu kaum melainkan Allah turunkan bagi seluruh alam tidak seperti agama Kristen yang sebenarnya Allah turunkan hanya untuk bani Israil saja. Namun, secara pandangan, Fundamentalis masalahnya hanya terletak pada penempatan obyek dan siapa yang dituju, sebatas itu. Bahkan Fundamentalis pun sebenarnya hanya sebuah pengakuan seseorang atau kelompok secara sepihak terhadap kelompok lainnya yang dirasa berbeda dan bertentangan dengan pemikirannya. Jadi tidaklah usah kita berepot-repot takut akan label ini. Selanjutnya, Radikalis pun sama seperti Fundamentalis. Radikal yang berarti mendasar ini seringkali dilabelkan pada seseorang yang membawa pemikiran yang mendasar yang bertentangan dengan pemikiran seseorang yang menganggapnya radikal. Dua kata ini hanyalah pandangan yang subyektif dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Maka dari itu, keduanya seharusnya tidak layak kita pakai dalam muamalah seorang muslim, apa lagi digunakan sebagai pemisah ukhuwah. Maka dari itu, berlepaslah dari kata baru yang maknanya adalah Intellectual Trap(Jebakan Intelektual).

Solusi dan jawabannya…

Label yang diberikan kepada para pengemban dakwah, khususnya pemuda, sesuai dengan kriteria pemuda yang telah disebutkan dalam nash-nash sebelumnya adalah wajar. Pasalnya, Islam yang dibawa para pengemban dakwah berisi peraturan dan hukum-hukum yang mendasar(Radikal) juga fundamen. Sedangkan pada kenyataanya, label itu hanyalah jebakan intelektual semata. Jadi bagi anda yang merasa pemuda dan sedang mengemban dakwah risalah Islam, tidak usah berkecil hati. Yakinlah bahwa Islam adalah jawabannya. Yakinlah pada pertolongan Allah. Berfikirlah kritis. Miliki kepemimpinan berfikir yang jelas, revolusioner, dan berani dalam menyampaikan yang Haq dan mencegah yang mungkar. Masuklah kedalam Islam secara Kaaffah. Hindari percakapan yang tidak penting. Sampaikan peringatan juga berita gembiranya. “Supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah(Al-Anfaal  8:39). Jadikan Allah sebagai pelindung dan cukuplah Allah sebagai pelindung.

Wallahua’lam bishshowwab

Abdillah Mufarrid al-Abror

Bhakti Aditya Purwansyah

Aktivis Gema Pembebasan

Syabab Hizbut Tahrir Indonesia

Sumber Referensi:

http://luluvikar.wordpress.com/2008/04/02/kaum-fundamentalis-dalam-islam/

Materi Dasar Islam – Arief B. Iskandar

Nizhom al Islam – Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani

Ibid.

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 24 March 2011, in Ammar Ma'ruf, Berita Islam, Dakwah, Jihad, Khilafah, Khilafiyah, Nahi Mungkar, Opini, Suara Kami and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s