Lucu Sekali!!!^o^

Lucu SekaliLucu sekali!!! Itulah yang ku rasakan saat mendengar percakapan dua tukang becak saat ku pulang kampung. Waktu itu sore hari, ya sekitar jam setengah lima. Aku sedang duduk di konter hp melakukan pembukuan dan mericek laporan keuangan. Kegiatan rutin ku tiap bulan, yang biasanya ku lakukan lewat email saat ku di Bandung.

Sambil menikmati kopi panas, melepas lelah setelah seharian mengayuh becaknya mencari lembaran-lembaran rupiah demi keluarganya, mereka pun bercerita ngalor ngidul. Tapi ada yang menarik dari pembicaraan mereka saat itu. Konterku ada di sebelah warung itu dan hanya terpisahkan papan tipis, sehingga aku dapat mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.

“So, tahu anaknya Pak Amin ga? Kasian ya, padahal udah sarjana tapi masih aja nganggur,” tanya Parjan pada karso.

“Ah itu si dianya aja yang susah dibilangin. Sebenernya kalo mau dia bisa aja kerja, tapi gengsinya ketinggian. Maunya kerja kantoran, ga mau kerja yang ngerakyat kaya kita. Makanya ga kerja-kerja.” Jawabnya.

“Maksudnya So?”

“Ya itu, anaknya manja. Mentang-mentang sarjana jadi penginnya kerja kantoran. Kalo kerja di PT atau jualan apa ga mau. Trus penginnya yang gajinya gede, kecil sedikit ga mau. Salah sendiri.”

“Oh gitu ya So. Emang dia kuliah apaan?”

“Administrasi Negara. Halah, kalo menurut ku titel tu ga penting. Yang penting dia bisa jadi orang apa ga.

Pas lagi kuliah si iya, kelihatannya aja orang hebat, gagah, masa depan cerah. Tapi ya aslinya, masih dibayarin orang tua. Udah gitu kalo lulus belum tentu dapet kerja. Kan banyak tuh, sarjana yang nganggur. Mending kaya kita, ga sekolah juga bisa nyari duit. Keluarga  bisa makan, anak bisa sekolah, malah bisa ngasih uang jajan. Kalo kaya dia itu, biarkata titelnya sarjana, tapi hasilnya nol.”

“Iya ya So, sarjana juga kalo nganggur percuma. Masyarakat tu ga mandang titel, tapi mandang dia berhasil apa ga. Punya titel sebanyak apapun, kuliah di luar negeri pun kalo nganggur ya ga ada gunanya. Menang di gengsi doang.”

“Ga cuma itu menurutku. Sekarang kaya gini ajalah. Kita bandingin. Tahu Sarif anakanya Pak Diman ga?”

“Iya So. Yang jualan ayam itu kan?”

“Iya. Dia kan cuma lulusan SMP, udah gitu ga ngelanjutin lagi. Orang tuanya ga mampu, jadi dia tu jualan ayam. Sepele kan kerjaannya? Ga ada gengsinya, tapi coba lihat penghasilannya. Sehari tu dia bersih bisa dapet antara 75-100 ribu. Cuma dari jualan ayam. Ambilah dia sehari cuma dapet 75 ribu sehari, berarti sebulan dia dapet 2,25 juta.

Sekarang bandingin sama guru yang sekolahnya lebih lama 7 tahun, trus gengsinya lebih tinggi. Tetangga ku itu guru SD, gajinya cuma 2 juta.

Coba bandingin, makmuran mana?”

“ya si Sarif lah. Tapi kan guru kerjanya bagus So, bikin orang-orang pada pinter.”

“Itu yang tadi aku bilang, gengsinya ketinggian. Kalo dilihat dari manfaatnya, jelas guru lebih mulia. Kalo dilihat dari gengsi, jelas guru lebih tinggi.

Tapi masyarakat ga ada yang peduli sama hal itu. Yang masyarakat tahu, orang itu bisa hidup makmur sama penghasilannya.

Udah gitu, bandingin lagi. Kebutuhan tu ga milih-milih orang. Mau titelnya apa juga kebutuhan tetep dateng. Misalnya sakit nih. Sakit mau orang miskin atau orang kaya juga tetep dateng.

Nah kalo lagi sakit trus disuruh bayar rumah sakit. Kira-kira, yang lebih mudah bayar rumah sakit siapa? Yang penghasilannya 2,25 juta apa yang 2 juta?”

“Yang 2,25 juta lah.”

“Nah iya kan? Pas lagi kebutuhan dateng, orang tu ga bakal lihat titel atau pekerjaan. Tapi mana yang mampu secara fisik terlebih dahulu. Percuma juga kalo titelnya tinggi, kerjaannya bergengsi, tapi kebutuhan ga terpenuhi. Kalo yang sekolah SMP bisa dapet 2,25 juta sebulan, mestinya yang sarjana bisa lebih dari 5 juta sebulan donk.

Eh ini, bukannya dapet lebih gede malah nganggur iya. Malu-maluin.”

Polos sekali rasanya mendengar perkataan dua orang becak itu. Aku jadi teringat pada film Alangkah Lucunya Negeriku, pendidikan penting apa tidak? Tapi aku pun berpikir, perkataan tukang becak ini ada benarnya. Terkadang titel dan segala jargon pendidikan justru menjadi tembok penghalang seseorang untuk bekerja. Faktanya adalah, banyak sekali sarjana yang menganggur. Ketika ditanya kenapa belum kerja, pasti jawabannya adalah “belum diterima”  tapi tidak pernah terpikir untuk membuat pekerjaan sendiri.

Lalu juga terkadang titel seseorang menjadi pembatas yang mempersempit kreatifitasnya. Orang yang kuliah di fakultas pendidikan misalnya, bayangan kerjanya adalah dia akan bekerja di bidang pendidikan. Semua mimpinya dipertaruhkan disana, sehingga saat kenyataannya dia tidak mendapat kesempatan di sana, maka tidak terpikir atau tidak berani untuk berbisnis atau mencoba di bidang yang lain.

Inilah yang membuat kreatifitas sebagai pemuda mati atau mengendap tanpa tersalurkan. Dua orang tukang becak itu tidak bisa disalahkan atas pendapatnya. Kita harus jujur dan menerima bahwa itulah yang ada di masyarakat. Itu fakta yang nyata, masayarakat tidak memandang titel atau gengsi, tetapi kemakmuran secara fisik. Dan tekadang, hal seperti ini tidak disadari oleh mahasiswa, sehingga saat mereka terjun dalam kehidupan masyarakat, mereka akan kaget dan susah beradaptasi pada masa-masa awal.

Aku pun jadi teringat pada teman SMA ku, namanya Altaf. Dia anak yang tidak terlalu pintar di pelajaran. Dia tidak nakal, hanya sedikit malas. Saat masuk kuliah dia bahkan DO tiga kali. Banyak orang yang mengira bahwa altaf ini tidak akan sukses, hidupnya pasti sengsara. Ya paling jadi sampah masyarakat, begitulah pikiran orang. Tapi jika melihat kondisinya saat ini, benar-benar seperti bumi telah terbalik. Altaf yang dahulunya dihina orang tidak akan berhasil, kini telah menjadi salah satu orang paling dihormati di desanya. Seorang anak muda, berumur 23 tahu, DO tiga kali dan tidak punya titel, tetapi sukses di bisnis dan berpenghasilan 13 juta sebulan. Saat teman-teman seangkatannya baru lulus kuliah menenteng map berijazah untuk melamar pekerjaan, dia kini sudah mempunyai rumah, mobil, penghasilan yang lebih dari cukup, bahkan sudah menikah dengan seorang dokter.

Apa yang terjadi? Kenapa pemuda yang DO tiga kali itu bisa sedemikian suksesnya? Dia mengatakan Cuma satu kuncinya, hilangkan gengsimu sehingga kau dapat melihat kesempatan dibidang apapun. Kisahnya, dimulai saat dia DO yang ketiga di UNISBA. Orang tuanya sangat kecewa padanya, bahkan sudah putus harapan dan tak mau lagi mengurusinya. Altaf yang sudah terpepet terpaksa pergi ke Jakarta menjadi tukang bantu-bantu di bengkel mobil. Tiga bulan di sana dia mulai berani mencoba menjadi makelar mobil. Selama setahun pertamanya dia hidup tak menentu, terkadangada di Jakarta, besoknya sudah di Surabaya, lusa sudah di Sumatera. Hanya untuk menawarkan mobil. Perih sekali hidupnya. Tapi man jadda wa jadda, Allah memudahkan jalannya. Pengalaman perihnya berbuah hasil, petualangannya di berbagai daerah membuatnya tahu tempat mana saja yang menjual mobil murah. Tak heran, tiap kali dia menjual mobil, untungnya bisa mencapai 10 juta per buah.

Dua tahun kemudian, Subhanallah, dia pulang ke Purbalingga membawa uang hasil berbisnisnya itu lebih dari 300 juta. Kini dia sudah membuak sebuah mini market dan dan terminal elpiji, dengan penghasilan lebih dari 10 juta sebulan. Bahkan dia berani melamar seorang dokter yang jelas-jelas mempunyai titel bergengsi tinggi, walaupun dirinya tak mempunyai titel sama sekali. Sungguh luar biasa, inila seharusnya pemuda. Tak cengeng, tak gampang menyerah, mandiri, dan pandai melihat peluang untuk mengembangkan potensi luar biasanya.

Jika kita bercermin dari hadist Rasulullah saw, sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dalam berdagang, maka kita tak hanya menggantungkan hidup kita dari kata “bekerja”. Karena sungguh menyindir apa yang dikatakan tukang becak itu “kalo SMP bisa 2,25 juta sebulan, harusnya sarjana bisa lebih dari 5 juta sebulan”.

Algatrus Restavia

Milisi Kasatrian STKS Bandung

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 23 February 2011, in Dakwah, Opini, Suara Kami and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s