Sebuah Renungan Seorang Aktivis Dakwah

Sejak keruntuhan Daulah Ustmani di Istambul, yang merupakan institusi simbol kebesaran dan pemersatu umat runtuh pada tahun 1924 oleh tipu daya dan muslihat Musthafa Kemal, sang agen Inggris yang disusupkan dalam lingkaran pemerintahan Khalifah Ustmani, perjuangan mengembalikan kejayaan Islam tak hanti-hantinya dikobarkan oleh generasi-generasi terbaik umat.
Namun,kerasnya usaha tak kunjung menuai keberhasilan. Bahkan, kegagalan demi kegagalan menghampiri hampir sebagian besar jamaah yang didirikan dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam. Ada yang didirikan atas semangat persatuan Islam. Ada yang muncul atas dasar persaudaraan Islam. Ada yang muncul dalam rangka melakukan pembaharuaan, ada pula yang bergerak secara kultural. Namun tak sedikit juga yang justru dalam perjuangan yang ditempuhnya mengadopsi pemikiran-pemikiran barat seperti Nasionalisme, Modernisme, Liberalisme, Feminisme, Pluralisme.
Menyaksikan sebuah proses perjuangan Islam yang tak kunjung memperoleh kemenangan ini tentunya dapat mengakibatkan kekecewaan dan keputusasaan. Umat yang tadinya menaruh kepercayaan dan harapan besar terhadap kemunculan sebuah jamaah dakwah kini seiring berjalannya waktu hanya beroleh kekecewaan dan kekecewaan, tak sedikit yang jatuh malah putus asa.
Ketika seolah hembusan angin kemenangan Islam mulai semilir mengalir menyejukkan pori-pori dan kembali membangkitkan semangat dengan makin leluasanya para pengemban dakwah menyampaikan kebenaran, justru kesempatan ini malah melenakan. Para pengemban dakwah ibarat monyet yang tertidur pulas karena tiupan sepoi angin yang menyejukkan hingga ia terlena dan terjatuh dari pohon.
Penguasa tirani tak henti-hentinya menzdalimi para kekasih Allah yang ikhlas menyeru umat untuk kembali ke pangkuan Islam dan menerapkan hukum-hukum Allah dalam segala sendi kehidupan mereka. Putra-putra umat Islam banyak yang menjadi korban keculasan fitnah perang melawan terorisme yang dilancarkan gembong Negara Kafir Penjajah Amerika Serikat.
Sadarlah bahwa untuk membebaskan Al Aqsha tak cukup hanya dengan aksi solidaritas dan tangisan saat menyaksikan video-video kezaliman yang mereka alami. Dan tak cukup hanya dengan semangat yang meluap-luap saat melihat gambar-gambar artistik mujahid-mujahid Islam. Tak cukup hanya sekedar melilitkan Al-Liwa dan Ar Rayya sebagai ikat kepala. Itu semua tak cukup. Dan lebih-lebih tak cukup hany sekedar telah bergabung bersama sebuah organisasi yang berjuluk “Lembaga Dakwah”.
Tanpa dorongan keimana, tanpa rasa takut akan murka Allah, tanpa komitmen terhadap jamaah dakwah, tanpa kesadaran dan keikhlasan untuk berkorban dalam dakwah baik tenaga, harta, dan nyawa, tanpa sikap mendahulukan kepentingan dakwah daripada peluang bisnis, pekerjaan, tugas kuliah, tanpa itu semua maka sungguh sangat memalukan kalau berharap Islam akan jaya ! ! !
Tidak sepantasnya seorang aktivis dakwah, ketika ada panggilan dakwah, ia lebih mengutamakan urusan lain, terlebih lagi urusan duniawi, sementara dia paham kalau umat ini sedang terpuruk. Lingkungannya sedang rusak. Namun, tak da yang ia perbuat karena ia takut ia akan kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri, kehilangan kesempatan untuk meraih nilai tertinggi dalam perkuliahan, takut dicampakkan dari pergaulannya.
Lucu, kenapa ia tak lebih takut ketika kelak Allah menanyakan tanggung jawabnya dakwahnya, jawaban macam apa yang akan ia sampaikan di hadapan Allah azza wa jalla.
Dan telah berulang kali Allah menegaskan bahwa Allah akan menjamin rizki setiap makhluk. Dan Allah telah berjanji akan memberikan selalu jalan keluar atas segala persoalan bagi hambaNya yang bertaqwa, dan Dia akan mengugerahkan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Masih layakkah kita menomorsekiankan dakwah dan lebih mendahulukan kepentingan kuliah, pekerjaan, teman, keluarga, diri sendiri? ? ?
Mari kita bersama berbenah diri, pantaskah Allah menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan kaum muslimin dalam kondisi kita yang seperti ini.

Agus Niamilah
III BPSM STKS Bandung
agusniamilah@yahoo.co.id
+6285220325889

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 4 February 2011, in Dakwah, Khilafah, Suara Kami, Tazkiyatun Nufs and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s