Pelajaran dari Para Rangers dan Riders

“Bismikallahumma ahya wa amuut”, sejurus kemudian kesadaranku mulai menguap sekejap demi sekejap hingga aku tidak tahu jam, menit, detik ke berapa aku terlelap. Serasa baru beberapa detik aku membaca doa mau tidur yang diajarkan oleh ibuku pertama kali waktu aku masih TK, tiba-tiba aku telah berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sedang panik berlarian seperti sedang melarikan diri dari suatu bencana. Ledakan terjadi dimana-mana. Teriakan histeris terdengar di mana-mana. Suara tangis disertai suara ledakan yang terjadi secara beruntun memekakkan telinga, membuat hati galau. Aku heran dan masih terheran-heran tidak habis pikir, apa yang sebenarnya tengah terjadi. Lalu dimana kasur dan bantal yang menyamankan tidurku tadi? Dimana rumah yang menaungiku tadi? Dimana selimut yang menghangatkanku tadi? Mana mungkin sekejap keadaan berubah kacau seperti ini? Apakah mungkin ayah, ibu dan kedua adik-adikku hilang bersama rumah dan tempat tidurku? Dan ini, kerumunan orang yang panik ini bukan pribumi Indonesia, ataupun orang etnis Jawa para tetanggaku. Mereka berambut pirang. Postur tubuhnya lebih tinggi dari ayah, ibu, kakek, nenek, paman, pakdhe, bu lik, bu de, dik Ilham, dik Ulin, dan tukang cimol yang lewat di depan rumahku istiqomah tiap pagi menjelang duhur. Sebagian ada orang hipanis (etnis Eropa timur), sebagian juga mirip Jet lee, Jacky Chan, dan Michelle Yeoh.

Aku makin bingung saja ketika di antara suara teriakan histeris dan tangisan yang mengiris hati terdengar suara tawa terbahak-bahak dan suara derum pesawat-pesawat tempur yang kian lama kian keras dan dekat. Serta suara-suara tembakan laser. Darimana aku tahu kalau itu tembakan laser, plus misil-misil modern robot-robot canggih? Karena aku pengalaman memainkan game Empire Earth. Suara-suara congkak yang menggambarkan kepuasan atas kondisi yang sedang terjadi itu makin dekat, makin dekat, makin dekat, dan…

“He, cecurut kecil! Siapa kau berani-beraninya congkak di hadapan kami! Kenapa kamu tidak lari seperti kebanyakan orang yang lari menyelamatkan diri?! Atau pasrah ikut menjadi tawanan kami?! Apa kehebatanmu sehingga kau tetap tak beringsut dari tempatmu berdiri, heu?!”. Masyaallah, mereka… mereka… mereka… tidak mungkin…

“Gorgom.. Jendral Jack.. Shadow moon.. Rita.. Oz.. para monster.. harimau, kalajengking, robot, vampir, buto ijo, buto cakil, buto terong, pocong, gendoruwo, kuntilanak, daro siwur, tukang kredit, pengemplang pajak, koruptor.. Mbeuh! I can belive it! Kabur!” ini mimpi ini bro, ngga mungkin ini nyata. Tapi, kucoba gigit lidahku, kucubit perutku, kutampar pipiku, kutarik kuat rambutku, ehhh, sakitnya bukan kepalang. Berarti ngga mimpi ini yak..

Aku tidak tahu harus berkata apa, ini, ini, ini, sungguh aneh ini. Tak kuduga, tak kusangka, dan tak kunyana akan terjadi perihal seperti ini. Kenapa tiba-tiba aku muncul di sebuah kota yang porak poranda, penduduknya panik tak karuan saling berlomba menyelamatkan diri masing-masing, dan tiba-tiba tokoh-tokoh jahat yang suka muncul di TV muncul tidak lebih dari 20 meter di hadapanku dalam jumlah yang sangat banyak, melebihi jumlah mahasiswa yang menduduki kantor DPR/MPR pada aksi reformasi 1998. Mereka berbaris rapi. Sebagian kecil di antar mereka berkeliaran kesana- kemari membuat keributan dan membakar kota. Aku masih bingung. Apa sebenarnya yang terjadi.

“Kau pasti salah satu anggota Rangers.” Tebak Oz yang buruk rupa.

“Bukan! Kau keliru pak tua! Dia adalah Rider. Coba lihat sabuk yang melingkar di pinggangnya..” bantah Jendral Jack.

(jeng.. jeng.. jeng.. backsound Pirates of Carribean tea bos..)

“Haaa..” Aku terperangah melihat keadaanku.

“Haa…” Orang panik yang melintas di hadapanku ikut terperangah.

“Haa…” para monster kacangan terperangah juga.

“Haa…” penjual siomay yang mangkal di perempatan terperangah.

“Haaa..” supir angkot keluar dari mobilnya dan menyempatkan diri untuk ikut terperangah.

Mismumkin alias tidak mungkin. Perasaan pas tidur aku tidak memakai sabuk, karena mengenakan celana training. Mana ada celana training pakai sabuk. Tapi nyatanya sekarang ada, bahkan gede lagi sabuknya. Ada mata ikan segede bola ping pong nangkring di tengah-tengahnya bak merah delima menyala-nyala. Trus ada hiasan batu akik hijau di tiap sudutnya. Sabuknya berat uey. Seperti melilitkan barbel 10 Kg di pinggang. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

“bukan-bukan, aku bukan ranger, apalagi kamen rider, bukan aku bukan satria baja hitam. Bukaannn!!!” (suaranya ngecho, berdelay, pake efek reverb ruangan terbuka).

“jangan bohong kau ya. Buktinya adalah sabuk yang melilit di pinggangmu” jendral Jack ngeyel, membantah bantahanku.

“ngga, ngga.. ini mah kebetulan. Ini bukan sabuk apa-apa kok. Ini mah aku beli di Kalapa di toko yang serba enam ribuan itu, pernah kesana Mas jack?” upaya untuk bohong yang sangat tidak profesional. Masa aku harus dihajar makhluk-makhluk mengerikan itu di tempat asing ini hanya karena jadi korban salah sasaran dikiranya aku anggota Ranger atau Rider. Ngga mau, lagian aku besok lusa mau berangkat ke Bandung buat registrasi dan ngelunasin SPP untuk kemudian mengerjakan kemudian KIA yang kemudian singkatan dari kemudian Karya kemudian Ilmiah kemudian Akhir sebagai kemudian syarat untuk kemudian lulus kemudian dari STKS sebagai kemudian Sarjana kemudian Sain kemudian Terapan alias kemudian SST.

Sejurus kemudian, atau bahkan dua sampai tiga jurus aku mendengar suara instrumentalia yang tidak asing aku dengar. That’s right! Ini suara musik pas Satria Baja Hitam secara dramatis muncul setelah lamanya dia menghilang disertai kabut-kabut tipis yang menyamarkan wujudnya. Wuih keren. Perlahan tapi pasti aku menyantap hidangan makanan nasi gila di atas piring lebar cantik ini. Eh afwan salah skript, maksudnya, perlahan tapi pasti aku menoleh ke kanan. Dan… Wow, Cih huy… RX.. ! Wah haaa! Prikitiuw.. tiuw.. tiuw..

Belum belum belum, belum habis ceritanya. Masih ada banyak bayangan ngga jelas di belakang RX.

“Flashman..”

“Jetman..”

“Fiveman..”

“Gaoranger..”

“Ninja Ranger..”

“Abaranger..”

So many Rangers and Kamen Rider kang! Eduuuunnn booo’!

Getaran hebat menjalar ke sekujur tubuhku, detak jantung naik meningkat makin cepat, tubuh melemas, lutut bergetar, keluar keringat dingin dan muntah darah saat RX menyentuh dan menepuk pundakku tanda memotivasi dan memberi ketenangan.

“Tenang gus, kami selalu ada bersamamu, hanya kau tidak menyadari..” dia tahu namaku. We he, pernah kenalan dimana yak?

“Kamu akan ikut bertarung bersama kami hari ini. Kunci kemenangan ada di tanganmu Agus Niamilah.”

“Aku? Bagaimana bisa?” aku masih tidak percaya

“Allah memberimu kelebihan yang sedari tadi tak kau sadari, padahal kekuatannya sungguh luar biasa. Henshin belt yang melilit di pinggangmu adalah alat perubah bentuk agar kau menjadi lebih kuat saat menjadi Rider menghadapi makhluk-makhluk jahat di depan itu. Bahkan jutaan barisan pasukan makhluk jahat. Kau tidak sendiri. Dan kalaupun hari ini kami tidak datang ke tempat ini, kau masih tetap tidak sendirian. Ada Allah yang selalu bersamamu. Selalu siap menolongmu. Sekarang gunakan sabukmu!”

“Wah, bercanda ini mas RX..”

“Gunakan!” Repot ni kalau Mas Kotaro sudah esmosi. Oke lah markitkem alias mari kita kemon.

“Tapi gimana mas cara makainya?”

“Tatap musuh dengan tatapan tajam bak elang hendak menerkam mangsa. Kepalkan kedua tanganmu. Luruskan niat karena Allah, jernihkan pikiran, lupakan film Miyabi yang kau tonton kemaren Sore”

“Wah fitnah itu mas”

“heu, afwan, ok, habis itu ucapkan Henshin! Jangan lupa bismillah biar barokah kekuatanmu”

Sebenarnya tidak diajari juga aku bisa, karena sering nonton bagaimana Kotaro Minami kalau pas mau berubah jadi Rider. Ok aku coba.

“Niat ingsung matek aji bismillahirrahmannirrahim, malih rupi dados Satria Baja Hitam lillahi ta’ala”

“Kepanjangan boy!” sergah Mas RX.

“Cukup bismillah, Henshin! Bid’ah itu ditambah-tambah kalimat kaya gitu.”

Wah, betul-betul, mas RX ngga suka hal-hal yang modifikatif dan akomodatif. Oke lah kalau begitu, “Henshin!”

…………………………………………………tit, tit, tit, tit, tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit……………………….

Asholaatuh khairun minan nauuuummm…

“Loh! Azdan?!” Aku terbangun.

“Wah, wah, haaa, benar, Cuma mimpi. Tapi kaya betulan je. Edan tenan o’. astaghfirullah.. Jadi kesiangan nih, ngga tahajud.”

Ternyata kejadian aneh yang menimpa diriku barusan, berada di sebuah kota asing yang porak poranda, bertemu bangsa monster, jin dan dedemit, bertemu para Rangers dan Riders, bertemu Mas Kotaro Minami. Andai dia muslim aku bakal ngefans berat sama dia. Subhanallah, mimpi barusan mana mungkin hanya sekedar omong kosong, mimpi tanpa makna. Kayaknya musti nanya ke ahli takwil mimpi nih. Jangan-jangan mimpi barusan adalah pertanda bahwa aku memang terpilih sebagai Kamen Rider untuk membasmi kejahatan di abad 21 ini, di negeri Khatulistiwa ini. Mbeuh, ngaco lagi dah. Eh, sebentar. Coba kalau ngga keburu dibangunkan suara azdan aku dah ngerasain jadi Satria Baja Hitam. Gimana rasanya memakai kostumnya, gimana rasanya punya jurus pukulan maut dan tendangan maut, dan gimana rasanya mengendarai belalang tempur buat pergi ke ladang mengangkut panenan buah kopi di Alas Kopen (nama sebuah area perkebunan kopi di lereng Gunung Sumbing).

Apapun makna mimpi barusan aku mendingan coba menarik hikmahnya aja, karena aku bukan ahli menakwilkan mimpi…

Suatu ketika aku mendengar tausiyah yang disampaikan oleh ustadz Tedi di Sekolah Alam tentang aktivis dakwah. Beliau menyampaikan bahwa aktivis dakwah tuh kaya Kotaro Minami. Saat Kotaro menyadari bahwa ia kini bukan lagi manusia biasa, ia adalah manusia dengan kekuatan luar biasa, keistimewaannya merupakan barang aneh dan langka bagi kebanyakan orang, ada tanggung jawab besar yang harus ia pikul. Dan ia juga tidak menyadari bahwa ada orang-orang yang juga seperti dia, memiliki kekuatan seperti dirinya, memiliki tanggung jawab menyelamatkan bumi seperti dirinya, hidup bagaikan orang asing seperti dirinya, sering merasa kesepian dalam dirinya. Tapi seiring berjalannya waktu sebenarnya ia memperoleh cinta dari setiap makhluk di bumi, selain Gorgom, Jendral Jack dan sejenisnya.

Seorang Rider adalah orang yang paling menderita ketika monster menyerang bumi. Ketika orang-orang lari menyelamtkan diri, Rider malah justru menghadang bahaya, memusnahkan sumber petaka. Saat monster berhasil dikalahkan, tak satupun orang mengucapkan selamat atasnya. Bahkan identitasnya sebagai Rider tak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya. Tapi musuhnya tahu identitasnya. Tapi ternyata ia tidak sendiri. Di belahan bumi lainnya ada orang-orang seperti dia. Ada sekian banyak Rider yang bahu-membahu berjuang menglahkan monster sepertinya.

Nah, begitu lah seorang aktifis dakwah. Seorang aktifis dakwah adalah orang yang seharusnya paling memahami permasalahan umat, paling memahami apa-apa saja yang berbahaya bagi umat. Ketika sebagian umat terlena dengan racun dunia dan sebagian justru ber-uzlah menghindari kehidupan dunia, seorang aktifias dakwah tampil sebagai orang yang menyelamatkan umat dari bahaya racun dunia. Menyadarkan mereka dari keterlenaan akan nikmat yang sebenarnya membawa sengsara. Dan menjadi orang yang menanggung resiko terberat atau konsekuensi dari perbuatan menantang bahaya yang ia pilih. Menentang kebijakan para monster akan menghadapi teror para monster. Nyawa taruhannya. Seorang aktifis dakwah hidup dalam keterasingan, bukan karena ia mengasingkan diri ke hutan. Melainkan ia memilih tadarus Al Quran di waktu-waktu orang asyik dengan musik-musik yang melenakan. Memilih memakmurkan Masjid ketika orang kebanyakan memilih tempat hiburan. Memilih mengenakan pakaian Syar’I yang diperintahkan oleh Rabb dan Nabinya ketika kebanyakan orang mengenakan pakaian yang fashionable, mengekor fashion kufur. Meski karena keterasingannya ia harus menerima celaan dan hinaan.

Tapi seorang aktifis dakwah harus sadar bahwa ia bukan satu-satunya aktifis dakwah. Ia tidak sendiri. Ada ribuan, bahkan jutaan aktifis dakwah yang bertebaran di muka bumi ini yang seperti dirinya, menentang kebathilan. Dan yang paling menggembirakan adalah, Allah selalu menyertainya. Dan balasan satu-satunya atas pilihan-pilihan hidupnya mengabdi untuk kepentingan dakwah menuju tegaknya Islam adalah Surga, yang luasnya sejauh mata memandang, yang semuanya adalah bentuk keindahan yang diciptakan Allah. Setiap langkah kaki di Surga adalah kenikmatan yang Allah karuniakan kepadanya…

Oleh:

Agus Niamilah

IV B PSM STKS

DKM AL IHSAN

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 4 February 2011, in Dakwah, Suara Kami and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s