Perjuangan Penegakkan Islam, Di dalam atau di luar Sistem???

Bismillah…

Ketika umat islam menyadari pentingnya penerapan dan penegakkan sistem islam, maka secara tidak langsung mereka akan bertanya bagaimana memperjuangkan agar sistem islam ini di terapkan dalam kehidupan masyarakat indonesia. Kini perdebatan yang muncul adalah apakah perjuangan penegakkan syariat islam ini melalui sistem yang ada atau berjuang diluar sistem yang ada?. Yang dimaksud berjuang didalam sistem ini adalah berjuang melalui parlemen, artinya kita masuk kedalam parlemen (ya tentunya dengan menjadi anggota DPR) dan menganti sistem demokrasi yang kufur menjadi sistem islam. Sedangkan yang di maksud dengan berjuang di luar sistem adalah berjuang dengan menyadarkan umat agar mereka  mau mengambil kekuasaan itu dan mengganti sistem demokrasi dengan sistem islam.

Fakta Parlemen

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, kita harus mengetahui fakta yang terjadi di parlemen, karena sesungguhnya masih banyak dari para pejuang islam itu tidak mengetahui fakta yang terjadi perlemen.  Inlah beberapa fakta yang ada di parlemen itu sendiri

Pertama, ketika kita ingin berjuang didalam parlemen kita harus mengetahui apa yang menjadi tugas dari para anggota DPR itu sendiri. Tugas itu tercantum dalam Undang-undang No. 22 tentang susunan kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Untuk Tugas dan wewenang DPR ada 16 perkara tercantum dalam pasal 26 diantaranya:

  1. Membentuk Undang-undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama.
  2. Membahas dan memberikan persetujuan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

Untuk kewajiban DPR diterangkan pada pasal 29, diantaranya:

  1. Mengamalkan pancasila
  2. Melaksanakan Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan mentaati segala perundang-undangan
  3. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Dari tugas, wewenang dan kewajiban anggota DPR itu sendiri sebenarnya sudah bermasalah, karena mereka di tuntut untuk melaksanakan Undang-undang dasar serta melaksanakan kehidupan berdemokrasi. Padahal bukankah kita bertujuan untuk mengganti sistem demokrasi bukan justru menjalankan kehidupan sesuai dengan demokrasi itu sendiri. Karena kita mengetahui sendiri bahwasanya sistem demokrasi adalah sistem kufur, dan haram hukumnya bagi seorang muslim untuk menganutnya dan menjalankanya dalam kehidupan sehari-hari.

Disamping itu pula bahwa semua tugas, wewenang dan kewajiban diatas merupakan syarat untuk menjadi seorang anggota DPR, sehingga wajib bagi seorang muslim untuk menolaknya karena bertentangan dengan aqidah islam. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap syarat yang tidak berdasarkan  kitabullah dan sunnah RasulNya, meskipun 100 syarat adalah bathil”.

Kedua, dalam Undang-undang tahun 1999 tentang perpolitikan menyatakan bahwa partai politik tidak boleh mengubah negara berdasarkan asas partai. Dengan demikian sangat jelas sebenarnya bahwa perjuangan lewat parlemen tentu tidak mungkin dalam kontek demokrasi. Karena walaupun partai islam yang notabene berasaskan islam, mereka tidak akan mampu merubah sistem demokrasi sebagai asas negara. Karena jika mereka tetap akan merubah asas negara tersebut, mereka akan dianggap sebagai partai yang tidak konstitusional atau partai yang tidak taat pada konstitusi negara, sehingga mereka akan di kenai sangsi atau di keluarkan dari sistem parlemen itu sendiri.

Ketiga,  Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 68

“Jika kamu melihat orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Kami, maka berpalinglah kamu dari mereka hingga mereka mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Dan jika kalian dilupakan setan (sehingga kamu diduduk di forum itu), maka setelah kamu ingat, janganlah kalian duduk bersama-sama orang yang zhalim itu”. (Al An’am : 68).

Ali Al-Shabuniy dalam Shafwaat Tafaasir Juz I hal. 397, menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa “Jika engkau melihat orang-orang kafir mengolok-olok ayat-ayat Allah, maka janganlah kalian duduk dan berdiri bersama mereka, sampai mereka mengalihkan pembicaraan mereka  kepada perkataan yang lain dan meninggalkan olok-olokan dan pendustaannya”.

Ayat diatas di pertegas oleh Allah SWT  di surah yang lain. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 140:

“Dan sungguh Ia telah menurunkan atas kamu, didalam Al-Qur’an ini bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah tidak diingkari dan diperolok-olek oleh mereka (orang-orag kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk bersama mereka). Sungguh Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka jahannam” (AnNiasa: 140)

Dari sisi hukum kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang duduk disuatu forum yang mengolok-olok ayat-ayat Allah dan mengingkari ayat-ayat Allah, dan mereka tidak merubah pembicaraannya, maka siapapun dia (baik orang islam atau kafir) walaupun hatinya menolak, maka ia telah terjatuh pada tindakan yang diharamkan oleh Allah.

Jika kita menganaologikan ini dengan konteks parlemen saat ini. Maka pertanyaan saya apakah anggota DPR saat ini berposisi sama dengan orang-orang  memperolok-olok ayat-ayat Allah?. Jika kita melihat fakta bahwa mereka (Anggota DPR) disana tidak mengambil syariah islam secara kaafah sebagai hukum di negara ini, tidak menjadikan Kitabullah dan Sunnah RasulNya sebagai rujukan untuk menerapkan aturan hidup dalam masyarakat. Tentu jawabannya adalah ketika mereka tidak menjadikan islam sebagai aturan hidup dalam negara ini, maka sadar atau tidak sadar mereka telah memperolok-olok ayat-ayat Allah.

Menegakkan Islam dengan cara syar’i

Ketika Allah memerintahkan kepada kita untuk menerapkan syariat islam secara sempurna dalam sebuah negara, maka sesungguhnya Allah juga telah menetapkan cara untuk menerapkan aturanNya. Itu semua bisa kita lihat dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menerapkan pertama kali islam secara kaafah di jazirah arab.

Allah SWT berfirman, “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah  itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagia orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Al Ahzab: 21).

Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad SAW….(HR. Bukhari & Muslim).

Dari dua dalil diatas dapat kita simpulkan bahwa kita harus menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh dalam hal apapun. Begitu pula dalam hal memperjuangkan syariah islam, wajib bagi seorang muslim untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh, sehingga dia mendapatkan rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.

Pertanyaan saya adalah apakah Rasulullah SAW berjuang melalui sistem jahiliyah atau masuk dalam pemerintahan pada waktu itu? Tentu tidak. Karena pada watu berada di mekkah Rasulullah SAW beliau ditawari kekekuasaan, harta dan wanita, tetapi dengan syarat agar beliau tidak lagi mendakwahkah islam. Tetapi beliau menolak tawaran tersebut karena bertentangan aqidah islam bahkan dengan tegas Rasulullah SAW bersabda “Wahai paman, demi Allah kalaupun mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan urusan agama ini, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamaNya atau aku binasa karenanya” (HR. Muslim)

Jika Rasulullah saw saja menolak dan tidak mengambil jalan melalui sistem jahiliyah (kufur), lalu mengapa kita harus mengambil jalan tersebut padahal Rasulullah tidak mencontohkannya???

Metode Rasulullah SAW

Menengakkan islam memang di wajibkan untuk membentuk suatu kelompok tau sebuah partai politik, sebagaimana yang di perintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

“Hendaklah ada diantara kalian satu jama’ah (partai) yang menyeru pada alkhair (Islam), dan menyuruh kepada yang ma’ruf (hal-hal yang wajib) dan mencegah dari yang munkar (maksiat)”. (Ali Imran 104)

Dengan adanya perintah ini, maka Rasulullah dan para sahabatnya membentuk sebuah kelompok dan menerapakan tiga metode yaitu:

Pertama: Marhalah Tatsqif, yaitu tahap pembinaan dan pengkaderan untuk melahirkan individu-individu yang meyakini fikrah dan metode Islam

Kedua: Marhalah Tafa’ul ma’al Ummah, yaitu tahap berinteraksi dengan umat agar umat turut memikul kewajiban dakwah, sehingga akan menjadikannya sebagai masalah utama dalam hidupnya, serta berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Ketiga: Marhalah Istilamil Hukmi, yaitu tahap pengambilalihan kekuasaan, dan penerapan Islam secara utuh serta menyeluruh, lalu mengembannya sebagai risalah ke seluruh penjuru dunia.

Inilah metode yang di terapakan oleh Rasullah SAW untuk menegakkan negara Islam di Madinah.

Kesimpulan

Perjuangan didalam dan diluar sistem itu adalah perkara Uslub (cara) bukan perkara  thariqoh. Sehingga saya pribadi menganggap bahwa perjuangan di dalam sistem dan diluar sistem itu hukumnya mubah (boleh), karena dakwah itu bisa dimana saja dan kapan saja. Namun, itu bisa menjadi haram ketika kita diarahkan untuk menghalalkan segala cara mencapai tujuan kita ini. Misalnya kita harus duduk bersama-sama dengan orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah.

Saudaraku, sesungguhnya sistem demokrasi adalah sistem  yang bathil dan telah menjebak banyak sekali partai-partai islam yang ingin memperjuangkan islam melalui sistem demokrasi ini. Namun, ketika mereka berjuang didalam parlemen maka hasilnya, kini partai-partai islam tersebut di paksa untuk bermusyawarah, berkompromi, menetapkan aturan-aturan, serta membicarakan  urusan-urusan umat dengan kaum sekuler yang tidak pernah mau memandang masalah tersebut dari sudut padang islam.

Saudaraku, Sistem demokrasi hanya akan memberikan kita kesempatan untuk berbicara tentang islam, namun sesungguhnya sistem ini tidak akan pernah rela untuk mau memberikan kita kesempatan menerapakan islam secara kaafah. Padahal yang kita inginkan, bukan hanya berbicara tentang syariah islam, tetapi juga kita menginginkan diterapkannya syariah islam secara kaafah di negara ini.

Saudaraku, sesungguhnya perubahan umat manusia tidak terjadi melalui perjuangan dalam parlemen. Lihatlah Revolusi Merah Soviet, Revolusi Islam Iran, Revolusi Industri, Revolusi Amerka, Prancis, Itali, Jerman dan begitupun perubahan yang terjadi pada saat peristiwa 1998 di indonesia . Semua perubahan itu tidak terjadi dalam parlemen, tetapi diluar parlemen.

Sumber:

Hukum Islam Seputar Parlemen karya A. Said ‘Aqil Humam ‘Abdurrahman

Sirah Nabawiyah sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw karya Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji

Imaduddin Al Faruq

Amirul Jihad

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 28 September 2010, in Dakwah, Khilafiyah, Opini, Sejarah, Suara Kami and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s