Identitas Pergerakan Mahasiswa Muslim

Oleh : Bhakti Aditya Purwansyah

Mukadimah… 

Poros perubahan ada dipundak mahasiwa. Begitulah kata bijak memberikan tanggungjawab secara tidak langsung pada mereka yang memiliki label mahasiswa. Agent of change adalah sebuah kalimat yang apabila kita mendengarnya, pikiran kita langsung tertuju pada mahasiswa. Mahasiswa juga berperan sebagai perpanjangan tangan dari masyarakat itu sendiri, penyampai aspirasi dan pemberi harapan. Mahasiswa memiliki peran penting dalam sebuah negara. Berbagai advokasi ketidakadilan, ketidakberdayaan, kecurangan politik-ekonomi-sosial dan lain-lain dilakukan mahasiswa sebagai interpretasi niatan nurani yang terusik oleh keadaan tersebut.

“Masa Muda adalah masa yang berapi-api” begitu kata Bung Roma dalam syair lagunya. Memang benar adanya, mahasiswa yang notabene berada diantara rentang usia 19-24 tahun sedang menjalani masa yang berapi-api. Sebagai contoh, tahun 1998, penggulingan rezim suharto dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa, dimana mereka sedang berada pada masa yang berapi-api. Terang saja akan diwarnai oleh api entah api secara bahasa maupun makna.

Berkaca dari historis 1998, peran mahasiswa sangat besar. Jika digeser sedikit ke tahun 1945, maka peran pemuda lah yang dominan. Mahasiswa identik dengan masa muda. Maka dari dua fakta sejarah ini, tahun yang berbeda namun pemerannya sama, yakni mahasiswa atau pemuda. Jadi, peran mahasiswa sangat besar dalam perubahan suatu susunan dan sistem politik-ekonomi-sosial suatu negara.

Deradikalisasi Pergerakan Mahasiswa…

Fakta hari ini sangat jauh dengan historis mahasiswa. Label agent of change, makna perubahan, masa berapi-api, kepemudaan, dan semangat juang tidak nampak dari raut wajah mahasiswa dewasa ini. Padahal kondisi ketidakadilan, keterpurukan, penjajahan, dan lain-lain sedang melanda negeri yang penduduk muslimnya terbesar di seluruh dunia ini. Mereka disibukkan oleh aktivitas pendidikan yang membuat mereka menjadi kian hedonis dan pragmatis. Ini bisa jadi salah satu bentuk deradikalisasi mahasiswa. Pendidikan yang kian hari kian mahal, malah membuat persaingan sengit diantara calon mahasiswa untuk mendapatkan kursi di kampus ketimbang memikirkan kondisi masyarakat akibat dari mahalnya pendidikan.

Sepertinya penguasa ingin berlenggang dan menghirup nafas bebas dari intervensi mahasiswa. Mungkin mereka belajar dari kesalahan tahun 45 dan 98. Penguasa tidak ingin kekuasaannya diganggu oleh tangan-tangan muda yang panas mengenggam bara api yang siap dilemparkan ke muka mereka karena kekorupannya. Kali ini mereka berhasil mendeklarasikan gencatan senjata dengan mahasiswa. Mereka berhasil menurunkan semangat juang para pemuda. Mereka mendapat poin penting, yakni tidak ada lagi intervensi mahasiswa. Dengan demikian penguasa bebas dengan politik dagang sapi membagi-bagi kekuasaan. Mereka juga mendapat sertifikasi untuk menginjak-injak rakyat karena mahasiswa telah dibutakan dan dibodohi oleh sistem pendidikan.

Pergerakan Mahasiswa Muslim…

Pemuda dalam Islam memiliki peran penting juga dalam perubahan. Seperti penaklukan Konstantinopel yang dilakukan seorang pemuda berusia 21 tahun yang bernama Muhammad Al-Fatih. Menyadarkan kita bahwa peran pemuda sangat penting dalam perubahan, dan perubahan kebanyakan dibawa oleh para pemuda. Islam selalu mengusung perubahan pemikiran yang mendasari setiap langkah perbuatan seseorang. Karena dengan pemikiran tersebut, Islam memandang bahwa manusia akan melakukan segala sesuatunya berdasarkan hal ini. Islam mengajak setiap manusia untuk meninggalkan thagut dan mengimani tauhiid. Inilah perubahan hakiki yang seharusnya menjadi dasar setiap pergerakan Islam. Tujuannya adalah semata-mata agar tidak ada lagi fitnah dalam agama Allah SWT ini. Yang diperjuangkannya tidak lain adalah keimanan dan kesadarannya akan hubungannya dengan Allah SWT. Pemuda yang dimaksud hari ini adalah mereka mahasiswa muslim. Mereka yang menisbatkan Islam dalam nama pergerakan mereka.

Dalam Islam, sejak pertama ia diturunkan pada rasulullah lewat wahyu yang disampaikan jibril, konsep pergerakannya adalah tunggal. Yakni membebaskan manusia dari penyembahan terhadap thagut agar hanya menyembah tauhiidThagut adalah maa kholafa’u syar’iy, apa-apa yang bertentangan dengan syariat. Sedang tauhid adalah mengakui ketuhanan hanya milik Allah SWT. Entah itu tauhiid uluhiyyahyakni mengakui kekuasaan Allah atas keseluruhan makhlukNya, rububiyyah, maupun asma’ wa sifat. Konsep ini tidak akan pernah berubah dan tidak boleh berubah. Oleh karenanya konsep ini tidak terikat ruang dan waktu. Siapapun ia, selama ia seorang muslim, maka yang ia sampaikan sudah sepatutnya adalah konsep ini.

Keteguhan ini dicontohkan bukan hanya oleh rasulullah SAWW saja, melainkan diduplikasi oleh para sohabat dan generasi selanjutnya hingga Islam pernah mensejahterakan dan membebaskan manusia dari penyembahan thagut kepada Tauhiid di 2/3 bagian dunia. Dengan ini membuktikan pula, pergerakan yang dilakukan rasululullah dan para sohabat adalah pergerakan mengubah pemikiran. Entah dilakukan dengan dakwah dan atau jihad yang menjadi metode pokok menyebarkan agama ini. Metode ini tidak boleh berubah sepanjang jaman. Metode ini baku dan tidak boleh ada yang menggunakan metode selain dari metode ini.

Sejatinya, inilah yang harus dilakukan pergerakan dakwah Islam mana pun di seluruh pelosok negeri. Mengubah pemikiran kufur pada Islam. Bukan malah sebaliknya. Kegiatan pengubahan perilaku yang didasari dengan mengubah pemikiran adalah landasan dasar dari metode yang dicontohkan rasulullah SAWW. Sudah sepatutnya mahasiswa yang menisbatkan Islam atau Muslim dalam nama Harokahnya, maka mau tidak mau ia harus mengemban pemikiran Islam. Bukan yang lain. Harokah-harokah ini sudah semestinya menyampaikan Islam ke tengah-tengah umat, menyadarkan umat dan membangkitkan kembali semangat untuk menegakkan dien al Haq ini dalam kehidupan. Sekali lagi, metodenya tidak bisa berubah dan diubah semau sendiri. Maka dari itu, apabila hari ini ada pergerakan mahasiswa yang menisbatkan Islam dalam nama pergerakannya tidak membawa tujuan Tauhiid dan mengemban pemikiran Islam juga tanpa menggunakan metode yang telah disahkan oleh rasulullah SAWW, maka sejatinya mereka tidak layak dikatakan sebagai aktivis pergerakan Islam.

Mengapa harus tujuan, materi dan metode yang sama?

Ada beberapa landasan konsepsi dan faktual yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Beberapa hal tersebut yakni:

  1. Landasan kelompok dakwah adalah surah Ali Imran: 104, yakni “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Al Khoir dalam tafsir ibnu Katsir yang menukil hadits dari Ibnu Murdawaih dari Abu Ja’far Al-Baqir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW membacakan ayat ini kemudian beliau bersabda: “al khoiru ittiba’ ul Qur’ani wa sunnati” yang artinya “yang dimaksud dengan kebajikan atau al-Khoir ialah mengikuti al-Qur’an dan Sunnahku”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang harus dibawa oleh jama’ah dakwah tidak lain hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang memiliki tabiat mengajak pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Ini adalah materi yang tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat dielakkan dengan naqli maupun aqli. Artinya setiap jama’ah dakwah apalagi yang menisbatkan pergerakannya dengan nama Islam, maka yang diembannya tidak boleh yang lain kecuali Syariah Islam.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Asy’ari bahwa ada seorang laki-laki badui datang kepada nabi SAWW dan bertanya… “maka siapakah yang disebut berjuang di jalan Allah?” maka rasulullah SAWW bersabda: “barang siapa berjuang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya maka itulah yang disebut berjuang di jalan Allah” (HR. Muslim 3524). Dari hadits shahih yang tidak bisa dibantah ini jelas tujuan seorang pengemban dakwah atau mereka yang disebut sebagai pejuang yang berjuang di jalan Allah adalah Tauhiid.  Yakni membebaskan manusia dari penghambaan terhadap thagut kepada semurni-murninya menyembah Allah Jalla wa A’la. Jadi jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai aktivis dakwah namun ia malah tidak sama sekali pernah mengajak manusia untuk meninggalkanthagut dan mengimani Tauhiid maka sesungguhnya ia hanyalah seorang pembual belaka. Tukang obat palsu. Ada pula mereka yang mengajak untuk mengimani Allah namun mereka tidak mengajak untuk mengkufuri thagut, maka sejatinya syahadatnya telah batal dan tidak bisa disebut sebagai pengemban dakwah secara syar’iy. Hal ini bersandar dari berbagai tafsir yang mengartikan kalimat syahadat. Bahwa kalimat syahadat maknanya tidak bisa dipisah-pisah,kufrun bith thoogut dengan iimanu billah adalah makna yang tidak boleh terpisah. Inilah mengapa mengajak manusia pada Allah saja tanpa melarang mereka dari menyembah berhala dapat membatalkan syahadat.
  3. Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan “ayat dalam surat al ahzab di atas adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam baik dalam perkataan, perbuatan dan keadaannya, oleh karena itu Allah Ta’ala menyuruh manusia untuk meneladani Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam baik dalam kesabaran, keteguhan, ribath dan kesungguh-sungguhannya, oleh karena itulah Allah berfirman untuk orang yang takut, goncang dan hilang keberaniannya dalam urusan mereka pada perang Ahzab”. Tafsir Jalalain juga menerangkan “(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.” Maka jelaslah metode dan cara menegakkan dien ini tidak boleh lepas dari uswah Rasulullah SAWW sebagai utusan-Nya yang diberi kewenangan untuk memimpin umat akhir zaman ini. Bagi mereka yang menempuh cara-cara dan metode baru untuk menegakkan agama ini, maka sesungguhnya ia telah tersesat, padahal telah ada berita dan peringatan dari Allah bahwa segala sesuatunya seorang muslim harus beruswah pada rasul selain itu maka sesungguhnya mereka telah mengingkari ketakutannya pada Allah, karena perintah ini dikhususkan bagi mereka yang takut padaNya saja dan juga yang meyakini adanya hari kiamat. Tidak mungkin berhasil orang-orang yang mengadakan hal-hal baru dalam perkara agama ini. Apalagi bermimpi untuk menegakkan dienuLlah dengan cara dan metode yang sama sekali tidak dicontohkan rasulullah SAWW.
  4. Adapun landasan faktual yang bisa kita resapi dan renungi adalah bahwa sampai detik ini tidak ada pergerakan yang mengatasnamakan Islam namun tidak berpegang teguh dengan ketiga poros dan pondasi dasar sebuah pergerakan ini yang berhasil mengembalikan izzah dienuLlah. Sebagai contoh, sejak runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyyah, banyak pergerakan-pergerakan  Islam yang muncul ke permukaan dengan tujuan menegakkan kembali Khilafah ini. Namun, karena mereka kebanyakan tidak memegang ketiga dasar dari pergerakan ini, maka hasilnya nihil. Pergerakan-pergerakan ini muncul atas dasar wathoni dan bahkan atas dasar perbaikan, padahal yang mereka hadapi adalah kehancuran yang sudah semestinya bukan diperbaiki, melainkan dibangun kembali guna terwujudnya kehidupan Islam yang komprehensif. Bukan pergerakan Islahiyah, bukan madaniyah, bukan pula Mahdiyyah. Pergerakan itu harus berlandaskan ketiga hal diatas. Tidak bisa di tawar-tawar apalagi mengambil jalan tengah untuk memusyawarahkan ketiga dasar ini. Sungguh bodoh orang-orang yang meninggalkan pokok-pokok dakwah ini, ia bagaikan beramal tanpa Ilmu, sebagus apa pun amalnya, semegah apapun hasilnya, jika tanpa didasari ilmu, maka hanya kesesatan yang akan mereka dapatkan. Fakta lainnya yakni pergerakan mahasiswa Islam, pemuda yang menjadi poros perubahan. Mereka sibuk dengan pergerakan islahiyyah dengan melupakan bahwa pokok masalah umat hari ini adalah bercampurnya kemurnian Tauhiid dengan Kesesatan Thagut. Hal ini tidak akan terselesaikan dengan gerakan Islahiyyah atau iyyah-iyyah lainnya. Perkara ini telah menggusur aqidah yang bisa mengakibatkan seseorang jatuh pada kekafiran. Karena syirik adalah dosa yang tak terampuni, maka perkara ini menjadi perkara yang amat besar. Maka sudah semestinya pergerakan yang dilakukan adalah semata-mata untuk menyelematkan aqidah kaum muslim. Yakni dengan metode dan cara yang dicontohkan rasulullah SAWW dalam membebaskan bumi arab dan ajam dari fitnah Thagut pada Tauhiid semata. Sekali lagi tidak ada jalan tengah, mau tidak mau kita semuah harus menempuh jalan ini. Sakit, senang, menderita, tersiksa bahkan terbunuh adalah resiko yang akan dibayar oleh Allah dengan JannahNya. Sekali lagi bukan jalan tengah! Dan bukan perkara yang diada-adakan, semua itu adalah bid’ah kubra.

Kembali pada Syariah dan menegakkan Khilafah…

Sudah jelas bahwasannya pergerakan mahasiswa muslim, apalagi yang menisbatkan pergerakannya dengan nama “ISLAM” dan atau “MUSLIM” memegang teguh ketiga poros pergerakan ini sebagai landasan dan pedoman dalam menyebarkan dakwah fiddiin. Sejatinya, pergerakan hari ini adalah semata-mata untuk menyelamatkan aqidah dari fitnah Thagut, bukan gerakan Islahiyyah karena bangunan kita telah roboh, khilafah telah tumbang 84 tahun yang lalu. Maka gerakan ini sudah semestinya bertujuan mengembalikan dan membangun kembali bangunan yang menjadi tempat berlindungnya aqidah kaum muslim dari pencemaran berhala-berhala dan thagut modern. Sudah semestinya juga dalam pergerakan mahasiswa muslim membawa pemikiran Islam, materi yang diserap dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan materi yang lain apalagi ideologi lain. Sudah menjadi kewajiban pula bagi mereka yang takut pada Allah dan juga mengimani hari kiamat mengikuti metode rasulullah SAWW dalam menegakkan “kembali” dienuLlah ini. Tidak dengan jalan tengah, karena rasulullah tidak mengajarkan kita untuk tunduk dan patuh pada Thagut dan hukum-hukum yang berasal darinya.

Jangan mengotori kemurnian Islam dengan menisbatkannya dalam pergerakan kalian padahal kalian tidak sama sekali membawanya dengan Ilmu syariah. Jangan mengotori kesucian Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menyandingkannya bersama hukum-hukum Thagut. Sesungguhnya hal itu adalah kehinaan yang akan menghinakan siapa saja yang melakukannya. Laknat Allah bersama mereka yang duduk bersama orang-orang yang memperolok-olok agama Allah ini.

Inilah Identitas sesungguhnya dari pengemban dakwah dan harokah Islam. Yang menjadi suatu kekhasan yang membuatnya berbeda dengan pergerakan-pergerakan lain. Dalam kitabnya, syaikh Taqiyuddin An-Nabhani sempat menyampaikan sebuah kata-kata yang menggugah paradigma juga pemikiran. Beliau berkata “Mengemban dakwah Islam pada saat ini, hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama sebagai mana masa-masa sebelumnya, yaitu dengan menjadikan metode dakwah Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Tidak boleh berpaling sedikitpun dari metode tersebut, baik secara keseluruhan maupun dalam rinciannya, dan tanpa memperhatikan lagi perkembangan zaman. Sebab, yang berkembang hanyalah sarana dan bentuk kehidupan, sementara nilai dan maknanya sama sekali tidak akan berubah, walaupun zaman terus berputar, dan bangsa-bangsa maupun negeri-negeri berbeda-beda.” Adapun mengenai sikap seorang pengemban dakwah, Syaikh Taqiyuddin juga berkata “Demikianlah seharusnya sikap dan tindakan seorang pengemban dakwah Islam, yaitu menyampaikan dakwah secara terang-terangan; menentang segala kebiasaan, adat istiadat, ide- ide sesat, dan persepsi yang salah; bahkan menentang opini umum masyarakat kalau memang keliru, sekalipun untuk ini dia harus bermusuhan. Begitu pula dia akan menentang kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama yang ada, sekalipun harus berhadapan dengan kefanatikan para pemeluknya atau harus menghadapi kebencian orang-orang yang dungu dalam kesesatannya.”

Jadi jangan pernah mundur atau mengatakan “aku takut karena ini dan itu” tapi takutlah hanya pada Allah semata. Jangan sandingkan Dia dengan Thagut. [] Wallahua’lam bishsowwab.

About kasatrianstks

Kami berjuang untuk Allah dan RasulNya. Darah kami adalah darah kaum muslimin, jiwa kami rindu syahid di Jalan Ilahi...Allahu Akbar...

Posted on 24 March 2012, in Ammar Ma'ruf, Berita Islam, Nahi Mungkar, Opini, Suara Kami and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 218 other followers